ARTIKEL

  • Category : Siswa
  • User : admin smp
  • Date : 05/06/2020

BELAJAR DARI CORONA, IDUL FITRI LEBIH BERMAKNA

(Membingkai makna Idul Fitri ditengah pandemi yang akan segera berhenti)

Oleh : Diki Hidayat, S.Pd.I (Guru PAI SMP BPI 1 bandung)

Sebagai muqadimmah, saya buka artikel singkat ini dengan kutipan ayat Al-Qur’an
tepatnya Q.S. Al-Insyirah ayat 5 dan 6.
Allah SWT berfirman:
??????? ???? ????????? ??????? , ????? ???? ????????? ???????
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Allah SWT memberikan isyarat melalui surat cintanya bahwa sesudah kesulitan pasti
ada kemudahan, ayat tersebut di ulangi sampai dua kali. Ini menegaskan dan
memberikan kabar gembira kepada kita semua bahwa Allah yang menjamin, ketika
kita menemukan masalah atau kesulitan pasti akan ada didalamnya kemudahan-
kemudahan. Ingat saudaraku! Yang berjanji adalah Allah, sangat mustahil jika Allah
mengingkari janjinya. Bagaimana jika kita tidak menemukan kemudahan dalam
setiap kesulitan, tidak menemukan solusi dari setiap permasalahan, tidak
menemukan kebaikan dari setiap kejadian, tidak menemukan kebahagiaan dari
setiap kesusahan, jawabannya adalah bermuhasabahlah dan beristighfarlah karena
boleh jadi banyak dosa kita yang meng hijab (menghalangi) rahmat dan pertolongan
Allah SWT.
Di dalam Tafsir Al Misbah, Prof Quraish Shihab menjelaskan, kata 'Usra' — yang
juga ada dalam QS Al Insyirah — terulang sebanyak empat kali di dalam Alquran.
Sementara, dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 12 kali. Kata ini
digunakan untuk sesuatu yang sangat keras, sulit atau berat. 
Quraish Shihab berpendapat, Allah SWT dalam ayat 5-6 ini bermaksud menjelaskan
salah satu sunnah-Nya yang bersifat umum dan konsisten. Setiap kesulitan pasti

disusul oleh kemudahan selama yang bersangkutan bertekad untuk
menanggulanginya. 
Mari kita terapkan ayat ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita ketahui bersama
bahwa tidak mungkin seseorang mengalami kesulitan terus menerus, mengalami
kesedihan terus menerus, mengalami sakit dan musibah tidak henti-henti, pasti akan
ada masanya berhenti dan berganti dengan kebaikan-kebaikan, kemudahan-
kemudahan. Bahkan jika kita sadari ketika ada orang yang mengeluh sakit yang
berbulan-bulan tidak kunjung sembuh setelah berobat, coba kita tanyakan kepada
orang tersebut apakah orang tersebut lebih banyak mengalami sakit atau lebih
banyak sehatnya?. Jika misalkan saja umur orang tersebut 40 tahun, selama dia
hidup 20 kali sakit parah, setiap 1 kali sakit sekitar 2 bulan maka yang dialami masa
sakit yang parah itu hanya 40 bulan atau sekitar 3,3 tahun. Ternyata orang yang
sering sakit saja dan sakitnya parah, jika dibandingkan dengan masa sehatnya
sangat jauh, dari umur 40 tahun hanya 3,3 tahun merasakan sakit. Maka
bersabarlah pertolongan Allah dekat, rahmat Allah dekat, kemudahan itu pasti ada,
kebaikan itu yakin ada.
“ Jika hatimu sedang gelisah dan merana, kesulitan dan musibah merajalela,
yakinlah dan tersenyumlah karena sebentar lagi engkau akan menemukan bahagia
yang menjelma dan pertolongan Allah yang nyata, bukankah langit tidak akan
selamanya mendung karena tertutup awan gelap, akan ada masanya langit cerah
dengan datangnya mentari yang berseri menebar cahaya, menghilangkan gelap dan
pengap “.(Diki HD)
Wabah Covid-19 yang viral dengan nama virus corona yang setiap waktu disebut-
sebut, setiap saat diberitakan dalam media menjadi perhatian semua bangsa.
Termasuk umat beragama. Kesulitan-kesulitan mulai dirasakan oleh berbagai
kalangan, dari kalangan atas maupun kalangan bawah. Dampaknya sangat dahsyat
berpengaruh kepada seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan belajar mengajar di
sekolah dihentikan, pusat-pusat perbelanjaan ditutup, aktifitas yang menghimpun
banyak masa ditiadakan bahkan aktifitas keagamaan pun sebagian di pensiunkan.
Mari kita bermuhasabah, dengan menancapkan tauhid di dalam hati kita supaya bisa
mengaplikasikan rukun iman yang ke 6 yaitu iman kepada qadha dan qadar, yakni
bagaimana kita mengimani meyakini dengan sepenuh hati bahwa apapun yang

terjadi di dalam kehidupan kita sudah Allah SWT gariskan di lauhil mahfudz sejak
zaman azali, sebelum bumi langit dan segala isinya tercipta. Skenario Allah ini
dahsyat Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, Allah satu-satunya dzat yang sangat
mengetahui atas segala ciptaannya. Manusia tidak boleh ikut campur mengurusi hal-
hal yang sudah Allah atur demi kebaikan manusia itu sendiri, tugas kita hanya taqwa
saja, menjalani segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah melalui
ibadah dan ikhtiar-ikhtiar lain untuk beralih dari takdir yang satu menuju takdir yang
lain yang lebih baik.

Allah SWT adalah kholiq sang pencipta, dan selain dari Allah adalah makhluk yang
diciptakan. Virus corona merupakan makhluk Allah yang sangat kecil ukurannya.
Menurut penelusuran ANTARA, diameter virus corona diperkirakan mencapai 125
nano meter. Ukuran diameter tersebut ditemukan oleh dua peneliti asal Amerika
Serikat yaitu Anthony R.Fehr dan Stanley Perlman dalam publikasi penelitian di
Situs Pusat Informasi Bioteknologi Nasional AS.
Kehadiran virus corona sangat tidak diinginkan keberadaannya oleh semua orang,
entah oleh orang-orang tertentu yang sama frekuensi pikiran/instingnya dengan virus
corona dalam misinya merusak tatanan dan tuntunan ajaran agama, mudah-
mudahan tidak ada yah yang seperti itu. Corona tidak pernah ada yang
mengundang, bahkan tidak pernah ada dalam pikirannya ingin terkenal dan viral di
dunia pemberitaan melebihi terkenalnya artis-artis hollywood dan bollywood bahkan
youtuber-youtuber terkenal pun kalah viralnya dengan virus corona ini. Ini adalah
takdir Allah yang harus kita imani, dan selalu ada kebaikan di dalamnya jika kita
percaya. Keberadaannya sudah ada didalam garisan qadha dan qadar Allah SWT.
Virus corona ini ada di dunia pasti ada nilai kebaikannya, walaupun satu sisi virus
corona diklaim sebagai makhluk Allah yang berperan antagonis, menakutkan,
menyeramkan, horor, pembunuh berdarah dingin.
Mari kita bermuhasabah terkait dengan wabah virus korona ini, supaya tidak terus
menerus menyalahkan keadaan dan tidak mengimani salah satu takdir dari Allah
SWT. Boleh jadi virus corona ini Allah utus untuk tadzkirah/peringatan kepada umat
manusia, terutama kepada kaum muslimin supaya kembali kepada Allah SWT.
Fenomena yang muncul sekarang ketika kebijakan dan aturan dari pemerintah

diperkuat oleh fatwa MUI terkait upaya untuk memutus mata rantai virus corona
supaya tidak menyebar dan menular dengan cepat sangat direspon oleh
masyarakat, dimulai dengan social distancing, lock down, karantina daerah dan
PSBB. Dengan ditutupnya pusat perbelanjaan, larangan mudik, larang berkumpul
dan menghimpun masa bahkan larangan menjalankan aktifitas keagamaan di
mesjid, seperti melakukan ibadah jum’at berjamaah, shalat tarawih, pelaksanaan
shalat idul fitri,pengajian-pengajian dll, harus dilaksanakan di rumah. Respon
masyarakat beragam karena melihat dan menerjemahkan aturan pemerintah
dengan multi tafsir atau bahkan sakarepe dewek. Buktinya, aturan pemerintah
tersebut masih belum efektif dan di ikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dan
seluruh kalangan. Rakyat lebih takut mati kelapan daripada mati karena corona.
Tetapi ironisnya yang disebutkan pada masa pandemi ini banyak rakyat bawah
yang kesusahan, masa sulit yang menghimpit, rakyat kecil menjerit sirna sudah,
karena kita bisa langsung melihat dengan berkahnya bulan Ramadhan, seluruh
umat muslim merasakan keberkahannya, di pasar-pasar padat dan ngatri dengan
pembeli, waktu sore berjubel dan berdesak-desak orang mencari makanan untuk
berbuka padahal masih dalam masa pandemi.
Sebagian mesjid yang mengganggap zona hijau masih melaksanakan shalat jum’at
dan aktifitas keagamaan yang lain, pasar-pasar tradisional yang bukan menjual
kebutuhan pokok dan sebagian pusat perbelanjaan yang menjual pakaian masih
buka, bahkan sangat membludak antri tak terkendali mencari pakaian kebanggan
untuk persiapan lebaran, bandara-bandara masih leluasa membuka jalur
penerbangan untuk akses orang-orang berduit supaya nyaman bisa mudik. Dengan
fenomena seperti itu menandakan bahwa di masa pandemi ini masih banyak orang
mendapat rejeki, mendapatkan uang, mendapatkan kemudahan-kemudahan
walaupun sebagian masyarakat tertentu ada yang kena PHK masal, gajih 50%
dipotong, usaha yang baru dirintis mengalami bangkrut di awal dll. Apapun itu jika
kita bersyukur pasti akan mendapat hikmah kebaikan dari Allah SWT.
Mari kita tafakuri bersama terkait dengan virus corona ini. Sebagian mesjid ditutup
dan digembok tidak mengadakan shalat berjamaahan, boleh jadi ini teguran bagi kita
sebagai kaum muslimin, sudah sering kita dipanggil oleh Allah untuk melaksanakan

shalat ke mesjid dengan panggilan suara adzan, tetapi banyak diantara kita cuek,
acuh dan tidak memperdulikan karena sibuk dengan urusan keduniawian.
Jangan salahkan corona, jika sekarang di sebagian mesjid-mesjid shalat jumat
sudah ditiadakan, barangkali diantara kita ketika dulu jumatan dan khotib khutbah
menyampaikan nasihat sering diabaikan karena ketiduran.
Jangan terus menerus menyalahkan corona, jika pengajian-pengajian sekarang
sudah dilarang, mari kita renungkan, boleh jadi tidak sedikit diantara ustdaz-
ustadznya yang mengomersilkan pengajian dan hidup glamor seperti artis biduan
dibalik jamaah yang hidup kesusahan, dan tidak sedikit jamaah yang ikut pengajian
hanya ingin sekedar mencari hiburan dengan fhoto-fhotoan.
Jangan salahkan corona, jika ramadhan tahun ini, sebagian mesjid tidak
mengadakan tarawihan, mari kita renungkan, boleh jadi diantara kita shalat
tarawihnya masih ikut-ikutan dan rame-ramean saja, buktinya dari tanggal 20
ramadhan ke atas banyak jamaah yang sudah berhenti tarawehan, karena mulai
sibuk dengan mempersiapkan baju dan membuat kue lebaran.

Jangan salahkan corona, jika lebaran tahun ini mudik ditiadakan, mari kita intropeksi
diri, barangkali diantara kita yang ikut mudik hanya untuk pamer kekayaan dan
kesuksesan ditengah masyarakat yang sedang kesusahan.

Jangan salahkan corona, jika ramadhan tahun ini disebagian mesjid shalat idul fitri
ditiadakan, mari kita renungkan, barangkali tidak sedikit diantara kita yang shalat idul
fitrinya hanya pamer mukena dan pakaian.

Jangan salahkan corona, jika tahun ini di mesjidil harom ditutup dari berbagai
aktifitas dan ritual kegamaan, mari kita renungkan, barangkali tidak sedikit diantara
kita yang melaksanakan ibadah haji dan umrohnya hanya sekedar menggugurkan
kewajiban dan banyak ibadah yang dipublikasikan dengan fhoto-fhoto selfian.

Majelis Ulama Indonesia ( MUI) menerbitkan fatwa tentang panduan kaifiat takbir
dan shalat Idul Fitri saat pandemi Covid-19. Fatwa itu diterbitkan pada Rabu
(13/5/2020). Dalam fatwa tersebut, MUI menyebutkan bahwa shalat Idul Fitri boleh

dilaksanakan di rumah jika seseorang berada di kawasan dengan penyebaran
Covid-19 yang belum terkendali atau masih berada di zona merah.

Sementara itu, jika umat Islam berada di kawasan dengan tingkat penularan Covid-
19 yang sudah terkendali, shalat Idul Fitri dapat dilaksanakan secara berjemaah di
masjid, mushala, tanah lapang, atau tempat lainnya. Pelaksanaan shalat Idul fitri,
baik di masjid maupun di rumah, harus menerapkan protokol kesehatan dan
mencegah terjadinya potensi penularan Covid-19.
Fatwa MUI ini tujuannya untuk kemashlahatan umat. Tetapi permasalahan
dilapangan, sekarang kita tidak bisa dengan pasti menentukan apakah kampung ini
termasuk zona merah, zona kuning atau zona hijau, karena kita tidak dibekali
pengetahuan dan alat yang canggih untuk mendeteksi apakah seseorang positif
corona atau tidaknya. Apapun kondisinya, masyarakat sangat antusias menyambut
bulan suci ramadhan dan mengisinya dengan berbagai ritual keagamaan, terlebih
mendekati idul fitri yang tinggal menghitung hari saja.
Walaupun idul fitri tahun sekarang berbeda dengan tahun kemarin, seperti tidak ada
mudik, sebagian melaksanakan shalat idul fitrinya dirumah, tidak berkumpul utuh
dengan sanak keluarga, tidak ada acara halal bihalal, tidak ada silaturahmi dengan
keluarga sambil makan opor ayam bersama, hal itu tidak mengurangi idul fitri lebih
bermakna, karena hakikat dari idul fitri adalah kembalinya diri kita kepada kesucian,
kembalinya diri kita kepada kebaikan, yang tadinya jarang melaksanakan shalat 5
waktu menjadi rajin dan istiqomah melaksanakan shalat 5 waktu, yang tadinya
jarang baca Al-Qur’an, menjadi rajin dan cinta Al-Qur’an, yang tadinya jarang
menelpon orangtua, menjadi rajin menelpon dan memberikan kabar kepada
orangtua sebagai bentuk perhatian, yang tadinya masih cuek dalam ibadah, menjadi
semangat dan memiliki ghirah yang kuat untuk ibadah karena ada kesadaran dan
masih banyak lagi.
Ramadhan dengan segala keistimewaannya tidak begitu saja hilang dan terlepas
jubah mulianya hanya dengan dihinggapi oleh tamu tak diundang yaitu virus corona,
ramadhan tetap istimewa karena Allah yang mengistimewakannya, ramadhan tetap
mulia karena Allah yang memuliakannya.

Mari kita membiasakan berpikiran positif dan husnudzon kepada Allah SWT tentang
pandemi yang melanda negeri ini dengan me-refreming atau selalu membingkai
ulang setiap kejadian dengan memberi makna yang positif. Karena apapun yang kita
pikirkan itulah yang akan kita dapatkan. Walaupun sekarang kita tidak bisa mudik,
jangan khawatir jika quota umur kita didunia ini masih ada, nanti setelah corona
berhenti dan pamit, kita bisa mudik ke kampung halaman dengan tenang, ataupun
kalau quota umur kita sudah habis karena sering dipakai live streaming ga jelas, kita
pun pasti bakal diberikan jatah mudik yang sesungguhnya yaitu mudik ke alam
akhirat yang sebenarnya itulah mudik yang hak/nyata perlu persiapan dan bekal
yang tidak sedikit, perlu tabungan amal yang sangat banyak, perlu menyimpan saldo
diberbagai rekening dan bank amal.
Apapun kondisinya, Idul Fitri tetap bermakna selalu ada dan hadir didalam jiwa
memberi bekas yang baik kepada orang bertaqwa. Selamat menjalankan sisa
ibadah puasa ramadhan 1441 H semoga pandemi virus corona segera mudik ke
asalanya tanpa memberi jejak yang merusak dan selamat hari raya idul fitri 1441 H "
Taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja'alanaallaahu wa
iyyaakum minal 'aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu 'ammin wa antum bi khair" .