ARTIKEL

  • User : admin smp
  • Date : 12/08/2022 14:31:37
  • Dilihat : web counter Kali

STANDAR GANDA DAN EFEKTIVITAS DIGITALISASI PEMBELAJARAN DI SMP BPI 1 BANDUNG

I. LATAR BELAKANG

Meningkatnya kecenderungan manusia terhadap teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di era informasi industry 4.0  ini sangat memiliki kaitan secara langsung dengan peningkatan tahap literasi digital, literasi informasi, dan juga tingkat kesejahteraan masyarakat. Semua faktor tersebut antara satu dengan lainnya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan. Selain itu, minat membaca masyarakat juga semakin meningkat sehingga berdampak pada pemenuhan berbagai sumber yang mudah dan cepat diakses.

Pembelajaran digital sebagai salah satu alternatif dalam dunia pendidikan yang dapat memberikan layanan dan sumber pembelajaran yang mudah dan cepat diakses. Pembelajaran digital dikembangkan agar terwujudnya sistem pendidikan terpadu yang dapat membangun hubungan antar komponen yang ada dalam pendidikan sehingga pendidikan menjadi lebih dinamis dan fleksibel bergerak dalam mengadakan komunikasi guna memperoleh dan meraih peluang-peluang yang ada untuk pengembangan Pendidikan.

Tetapi dalam pembelajaran berbasis digital tersebut masih banyak yang memandang negatif atau sebelah mata. Efek negatif yang ditimbulkan pada dunia pendidikan diantaranya adalah banyaknya informasi yang menarik bagi Peserta Didik di internet membuat Peserta Didik terkadang tidak fokus lagi dalam belajar di kelas.

Ada juga standar ganda dalam penerapan media elektronik (digital) dalam proses pembelajaran  yaitu, terkadang Peserta Didik mencuri-curi waktu untuk mengakses sosial media mereka, tak jarang malah lebih asik bersosial media dibandingkan menggunakannya untuk pembelajaran.

Tak jarang stigma negatif muncul ketika ada pihak guru melihat suatu kelas yang sedang menggunakan media elektronik seperti handphone atau laptop. Misalnya, saat pembelajaran, mereka beropini pembelajaran tersebut tidak akan terarah, serta tidak efektif. Hal itu karena, mereka berasumsi para Peserta Didik cenderung akan menggunakan gawainya untuk membuka sosial medianya dibandingkan menggunakannya sebagai media pembelajaran.

 

  1. PEMBAHASAN
  1. Stakeholders Sebagai Penyelenggara Pendidikan

Dalam penyelenggaraan pendidikan tentu melibatkan banyak pihak. Menurut Undang-undang Nomor 16 Tahun 2016 pendidikan diarahkan untuk mewujudkan masyarakat gemar belajar mengacu pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengamanatkan adanya sistem pendidikan nasional yang mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Masih menurut Undang-undang Nomor 16 Tahun 2016Satuan pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Ketika kita mulai membicarakan penyelenggaraan pendidikan, banyak sekali dari kita sudah pernah mendengar kata Stakeholder. Pemahaman tentang Stakeholder ini menjadi suatu hal yang penting untuk dipahami oleh seluruh orang, secara khusus bagi yang terlibat dalam penyelenggaraan Pendidikan di Indonesia. Menurut Freeman (Rafi, 2010) Baginya bahwa pengertian Stakeholders adalah suatu kelompok masyarakat atau juga individu yang saling mempengaruhi juga dipengaruhi oleh pencapaian tujuan tertentu dari sebuah organisasi. Jadi intinya, Stakeholder merupakan semua pihak di dalam masyarakat, baik itu individu, komunitas atau kelompok masyarakat yang memiliki sebuah hubungan dan kepentingan terhadap organisasi, perusahaan dan permasalahan yang sedang dibahas. Dalam terjemahan bahasa Indonesia sendiri, arti Stakeholder adalah seorang pemangku kepentingan atau pihak yang berkepentingan.

Stakeholder sangat menentukan kunci keberhasilan pengelolaan dalam penyelenggaraan di Lembaga Pendidikan dan harus memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai tujuan bersama. Stakeholder dalam Lembaga Pendidikan meliputi kepala sekolah, guru, dan karyawan sekolah.

 

 

  1. Pendidikan yang Ideal

Pendidikan, seperti sifat sasarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena sifat- nya yang kompleks itu, maka tidak sebuah batasanpun yang cukup memadai untuk menjelaskan hakekat pendidikan secara lengkap. Batasan tentang hakekat pendidikan yang dibuat para ahli beraneka ragam, dan kandungannya kadang berbeda satu dari yang lainnya. Perbedaan tersebut mungkin terjadi karena perbedaan orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya

Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan menurut Imam Barnadib (Wasitohadi, 2014:50), memandang pendidikan sebagai fenomena utama dalam kehidupan manusia di mana orang yang telah dewasa membantu pertumbuhan dan perkembangan peserta didik untuk menjadi dewasa. Pendidikan dalam arti luas semacam itu, telah ada sejak manusia ada. Sejak awal mula kehidupannya, manusia sudah melaku- kan tindakan mendidik atas dasar pengalaman, bukan berdasarkan teori bagaimana sebaik- nya mendidik. Dalam hal ini, pendidikan menunjuk pada pendidikan pada umumnya, yaitu pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat umum.

Menurut penulis kesimpulannya Pendidikan adalah serangkaian pengalaman yang diterima, dirasakan dan dialami oleh peserta didik agar menjadi masyarakat yang mandiri dan mengembangkan potensi dalam dirinya. Berkaitan dengan pengalaman, menurut Schmitt dalam (Adinata:pengalaman merupakan peristiwa-peristiwa pribadi yang terjadi dikarenakan adanya stimulus tertentu, dalam hal ini stimulis tersebut adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh Lembaga Pendidikan tertentu.

 

  1. Proses Pembelajaran Digital

Proses pembelajaran hendaknya berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat dan minat peserta didik. Proses pembelajaran harus melibatkan banyak pihak, yang diimbangi oleh perkembangan teknologi untuk mempermudah dalam tercapaianya suasana tertentu dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik nyaman dalam belajar.  Hakikat belajar yaitu suatau proses pengarahan untuk pencapaian tujuan dengan melakukan perbuatan melalui pengalaman yang diciptakan.

Salah satu yang memiliki peran penting dalam pendidikan adalah media pembelajaran yang makin dinamis, atau yang lebih familiar disebut digitalisasi pendidikan. Pada pembelajaran dibutuhkan teknologi pembelajaran yang biasanya digunakan pada saat pembelajaran juga. Dapat dikatakan teknologi karena merupakan suatu alat atau produk yang mempunyai manfaat dalam pembelajaran. Terjadi perkembangan diakibatkan ada perubahan teknologi pada setiap jamannya. Dari segi tujuannya sampai dengan manfaat setiap teknologi yang ada. Dari tahun ke tahun akan lebih mengalami perkembangan. Hal itu sudah dibuktikan pada saat ini. Di Indonesia sudah cukup banyak teknologi pembelajaran yang digunakan pada setiap sekolahan.

Menurut Widodo dan Jasmandi dalam (Ina, 2017:312)  Bahan atau materi pelajaran yang disusun secara secara sistematis yang digunakan guru dan Peserta Didik dalam proses pembelajaran. Bahan ajar adalah separangkat atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan yaitu mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya.

Kesimpulannya bahan ajar berguna membantu pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Bagi pendidik bahan ajar digunakan untuk mengarahkan semua aktivitasnya dan yang seharusnya diajarkan kepada Peserta Didik dalam proses pembelajaran.

 

  1. Proses Pembelajaran Saat Pandemi Covid-19

Pada saat pandemi Covid-19 melanda dunia, khususnya di Indonesia sistem pembelajaran sempat terhenti selama beberapa pekan. Akan tetapi mentri pendidikan padaa saat itu yaitu Nadiem Makarim menginstruksikan pendidikan diselenggarakan secara daring atau yang dikenal sebagai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Di masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) guru masih meraba-raba dan mencari bentuk pembelajaran sistem PJJ apa yang tepat digunakan pada sekolahnya. Pembelajaran jarak jauh merupakan proses pembelajaran dimana peserta didik dan guru tidak bertemu secara langsung dalam satu tempat. Kementerian pendidikan dan kebudayaan melalui surat edaran nomor 4 tahun 2020, menjelaskan bahwa terdapat dua jenis pembelajaran jarak jauh yaitu luring (luar jaringan) dan daring (dalam jaringan). Pembelajaran luring merupakan pembelajaran yang tidak menggunakan jaringan internet maupun intranet. Sistem pembelajaran luring (luar jaringan) artinya pembelajaran yang memanfaatkan bantuan media, seperti radio, meminjamkan buku pelajaran kepada p untuk dipelajari, belajar melalui siaran televisi edukasi TVRI.

  1. Proses Pembelajaran Pasca Pandemi Covid-19

Di SMP BPI 1 Bandung yang memiliki latar belakang sekolah keluarga menengah ke atas yang sudah pasti setiap Peserta Didik-siswinya memiliki Handphone atau Gawainya masing-masing tidak memiliki kendala secara media pembelajara.

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, SMP BPI 1 Bandung sudah melaksanakan pendidikan secara optimal, menggunakan media yang ada dan yang terpenting aplikasi yang digunakan memudahkan untuk guru maupun untuk peserta didik.

Setelah pandemi Covid-19 mulai mereda, sekolah di kota Bandung sudah melaksanakan sekolah secara Tatap Muka walau dalam pelaksanaannya masih banyak guru yang memanfaatkan sistem pembelajaran berbasis teknologi digital.

Platform digital merupakan suatu program penunjang yang dapat menentukan keberhasilan pembelajaran. Terdapat beberapa platform yang dapat digunakan dalam pelaksaanaan pembelajaran diantaranya yaitu Google Clasroom, Edmodo, Rumah Belajar, Ruang Guru, Sekolahmu, Kelas Pintar, Zenius, Google Suite for Education, Microsoft Office 365 for Education. Selain platform tersebut, terdapat platform digital lain yang dapat digunakan selama pembelajaran antara lain Whatsapp Group (WAG), Google Classroom (GC), Edmodo, dan Zoom.

Adapun manfaat yang didapatkan Ketika guru menggunakan pembelajaran berbasis digital yaitu

  1. Lebih mudah dalam mencari informasi yang dibutuhkan;
  2. Informasi yang dibutuhkan secara actual lebih mudah diakses;
  3. Inovasi dalam pembelajaran akan lebih cepat perkembang dengam berbasis e-learning yang memudahkan proses pembelajaran secara daring;
  4. Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru sehingga peserta didik mampu memahami materi-materi yang abstrak menjadi lebih tergambarkan secara konkret.

Walaupun banyak sekali dampak positif pembelajaran berbasis teknologi digital, kita juga tidak boleh menutup mata akan dampak negatif yang ditimbulkan yaitu

  1. Semakin banyaknya informasi yang bisa diakses oleh peserta didik, maka semkin terganggu juga fokusnya;
  2. Mempermudah terjadinya pelanggaran Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) karena semakin mudahnya guru maupun peserta didik copy dan paste sebuah karya ilmiah mapun tugas antar Peserta Didik;
  3. Peserta didik dapat melupakan untuk menjalankan kewajibannya seperti belajar dan beribadah.

 

  1. Standar Ganda dalam Proses Pembelajarn  dengan Memanfaatkan Media Digital.

Setelah menimbang kekurangan dan kelebihan penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran, penulis melihat adanya suatu peluang yang bisa dimanfaatkan dengan baik. Sedangkan dampak negatif tersebut bisa dihindari dengan pengawasan yang ketat oleh guru mata pelajaran, agar Peserta Didik bisa tetap fokus dan optimal menggunakan Gawai dalam proses pembelajaran.

Masih banyak juga stigma negatif yang Ketika ada rekan Guru yang melangsungkan proses pembelajaran memanfaatkan teknologi Gawai dipandang sebelah mata, dan menganggap pembelajaran tersebut tidak akan efisien karena terganggu dan khawatir Ketika peserta didik akan membuka sosial medianya dibandingkan menggunakan Gawai sebagai media pembelajaran.

ditinjau dari keuntungan jika guru memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran seperti

  1. Administrasi Pembelajaran

Administrasi pembelajaran adalah seperangkat rencana terukur dan terstruktur yang akan diterapkan di dalam proses pembelajaran. Secara logis pengajaran yang dilakukan tanpa persiapan merupakan suatu proses belajar yang mengambang di mana seorang guru tidak mengetahui secara terukur siapa yang diajari secara akademis, dari mana pembelajaran seharusnya dimulai, sampai dimana pembelajaran harus diakhiri, seperti apa ketercapaian hasil pembelajaran, bagaimana ketercapaian Peserta Didik terhadap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan, dan bagaimana tindak lanjut perbaikan selanjutnya.

Tentu untuk mengetahui hal-hal krusial di atas seorang guru harus melakukan kajian mendalam dan pemotretan proses pembelajaran secara menyeluruh serta merencanakan ulang pembelajaran yang akan dilakukan melalui administrasi pembelajaran sesuai dengan hasl kajian dan temuan sebelumnya. Untuk itu persiapan administrasi pembelajaran harus dirancang oleh seorang guru sebelum mengajar Peserta Didik. Bahkan menurut penulis, makruh hukumnya jika seorang guru melakukan pengajaran tanpa ada persipan secara formal.

Dalam persiapannya tersebut bisa dipermudah dengan teknologi digital, bahkan bisa lebih transparan dengan memanfaatkan aplikasi google spreadsheet yang tautannya dapan dibagikan kepada peserta didik maupun kepada orang tua peserta didik.

 

  1. Evaluasi Pembelajaran

Sebagai guru kita mempunyai kewajiban dalam melaksanakan evaluasi dari apa yang sudah di ajarkan setelah satu butir kompetensi dasar selesai.  Dalam sistem pembelajaran (maksudnya pembelajaran sebagai suatu sistem), evaluasi merupakan salah komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran. Hasil yang diperoleh dapat dijadikan balikan (feed-back) bagi guru dalam memperbaiki dan menyempurnakan program dan kegiatan pembelajaran.

Kualitas proses dan hasil evaluasi pembelajaran perlu terus ditingkatkan, sehingga dapat dipertanggungjawabkan ke berbagai pihak, seperti ke pemerintah, orang tua peserta didik, komite Madrasah dan Kepala Sekolah.

Dari pada teks secara konvensional (printed materials) khususnya dalam memberikan materi dan evaluasi. Namun keterbatasan guru dalam mengevaluasi Peserta Didik menggunakan sistem digital menjadi faktor utama untuk melakukan revitalisasi sistem pembelajaran supaya dapat menciptakan sistem pembelajaran dan evaluasi yang lebih efisien, efektif, dan fleksibel. Perkembangan teknologi informasi menjadi peluang dan tantang bagi para guru. Peluangnya mampu melakukan evaluasi terhadap Peserta Didiknya tanpa dibatasi ruang dan waktu

Ada beberapa strategi evaluasi yang dapat dilakukan guru di era digital, diantaranya yaitu mengembangkan model, melakukan inovasi dan evaluasi pembelajaran dengan media digital. Dengan strategi pembelajaran era digital tersebut diharapkan guru dan Peserta Didik mendapatkan kemudahan dalam pembelajaran. Sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat diperoleh dengan maksimal.

Contoh aplikasi yang dapat digunakan untuk evaluasi dalam pembelajaran yaitu

  1. Google Formulir
  2. Quiziz
  3. Kahoot
  4. Testsmoz
  5. Quizegg
  6. Quizstar
  7. Learning Management System (LMS)

 

  1. Proses Pembelajaran

Pembelajaran digital pada hakekatnya adalah pembelajaran yang melibatkan penggunaan alat dan teknologi digital secara inovatif selama proses belajar mengajar, dan sering juga disebut sebagai Technology Enhanced Learning (TEL) atau e-Learning. Menjelajahi penggunaan teknologi digital memberi para pendidik kesempatan untuk merancang kesempatan belajar yang lebih menarik dalam pembelajaran yang mereka ajarkan, dimana rancangan pembelajarannya dapat dikombinasikan dengan tatap muka atau bisa juga sepenuhnya secara online.

Contoh aplikasi yang dapat digunakan untuk Pembelajaran memanfaatkan teknologi digital yaitu

  1. Google Clasroom,
  2. Edmodo, Rumah Belajar,
  3. Ruang Guru,
  4. Sekolahmu,
  5. Kelas Pintar, Zenius,
  6. Google Suite for Education,
  7. Microsoft Office 365 for Education

 

 

  1. Proses Pengawasan dalam Pemanfaataan Pembelajaran Digital

Kurangnya Pengawasan Kegiatan pembelajaran daring akan berjalan dengan lancar, jika siswa senantiasa mendapat pengawasan, baik dari guru maupun orangtua

Pengawasan dari orang tua bisa berupa membatasi aplikasi atau situs yang dapat diakses oleh anaknya dengan menggunakan fitur Parental Control yang sudah disediakan di Gawai berbasis android.

Untuk pengawasan dari guru bisa berupa motivasi dan Batasan-batasan Ketika menggunakan Gawai dalam proses pembelajara. Guru juga tidak boleh lengah mengawasi anak dalam mengakses informasi pada saat proses pembelajaran.

Jika pembelajaran dilaksanakan secaara kelompok, maka guru cukup memberikan masing-masing satu Gawai kepada setiap kelompk belajar, sehingga meminimalisir peserta didik untuk membuka hal-hal yang tidak diperlukan, seperti mengakses sosial media.

 

  1. PENUTUP

Pembelajaran digital adalah praktik pembelajaran yang menggunakan teknologi secara efektif untuk memperkuat pengalaman belajar peserta didik yang menekankan instruksi berkualitas tinggi dan menyediakan akses ke konten yang menantang dan menarik, umpan balik melalui penilaian formatif,

 peluang untuk belajar kapan saja dan di mana saja, dan instruksi individual untuk memastikan semua peserta didik mencapai potensi penuh mereka. Pada dasarnya, pembelajaran digital diterapkan dengan menggunakan beberapa prinsip, yakni; personalisasi, partisipasi aktif peserta didik, aksesibilitas, dan penilaian.

 Dalam hal pemanfaatan pembelajaran digital, setidaknya ada 3 potensi atau fungsi pembelajaran digital yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai alat komunikasi, alat mengakses informasi, dan alat pendidikan atau pembelajaran.

Terkait dengan ragam pemanfaatan Pembelajaran Digital, ada beberapa aplikasi yang dapat diintegrasikan dan dimanfaatkan dalam kelas digital, diantaranya adalah penggunaan mobile learning atau m-learning, pemanfaatan media sosial seperti Facebook, Instagram, Youtube, atau seperti zoom, google meet, google formular, zoho, kahoot dan lain sebagainya; pemanfaatan pembelajaran berbasis permainan, serta pemanfaatan Cloud Computing.

Hindari juga stigma negatif tentang pengunaan media teknologi digital seperti gawai yang akan menimbulkan efek negatif, karena sejatinya guru harus selalu dinamis mengikuti perkembangan zaman, apalagi di saat ini peserta didik dari generasi Z yang sudah sangat melek teknologi.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

Adinata, E. N. (2015). Pengaruh Pengalaman Kualitas Website, Dan Kepercayaan Terhadap Niat Pembelian Ulang Secara Online Di Situs OLX Indonesia. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya

Anggeraini, Y., dkk. (2019). Literasi Digital: Dampak dan Tantangan dalam Pembelajaran Bahasa. Universitas Negeri Semarang

Assidiqi, M. H. & Woro Sumarni. (2020). Pemanfaatan Platform Digital di Masa Pandemi Covid-19. Universitas Negeri Semarang

Jatmiko, D. (2017). Peran Stakeholder Sekolah Dalam Mengatasi Berbagai Macam Kekerasan Di Kalangan Siswa. Universitas Nusantara PGRI Kediri. 4 (1), 7-13

Magdalena, I. dkk. (2020). Analisis Bahan Ajar. Universitas Muhammadiyah Tangerang. 2 (2), 312-326

Nafrin, I. A. & Hudaidah. (2021). Perkembangan Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi Covid-19. Universitas Pahlawan. 3 (2), 456-462

Rigianti, H. A. (2020). Kendala Pembelajaran Daring Guru Sekolah Dasar Di Kabupaten Banjarnegara. Univeritas PGRI Yogyakarta Indonesia. 7 (2), 297-302

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Wasitohadi. (2016). Hakekat Pendidikan Dalam Perspektif John Dewey. Universitas Kristen Satya Wacana

Wijaya, R. (2010). Pengertian Stakeholder: Jenis-jenis, Peran dan Fungsinya dari https://www.gramedia.com/literasi/stakeholder/2010 .Diakses 11 Agustus 2022 pukul 20.48 WIB