ARTIKEL

  • User : admin smp
  • Date : 12/08/2022 16:16:52
  • Dilihat : web counter Kali

PEMBENTUKAN KARAKTER MANUSIA MELALUI BINTALIS DAPAT MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN DI ABAD 21

Oleh

Nur Wulan Afriliani, S.Pd.

wulanafril24@gmail.com

 

  1. LATAR BELAKANG

Membangun atau pembentukan karakter bangsa membutuhkan waktu yang lama dan harus dilakukan secara berkesinambungan. Karakter yang melekat pada bangsa kita akhir-akhir ini bukan begitu saja terjadi secara tiba-tiba, tetapi sudah melalui proses yang panjang. Potret kekerasan, kebrutalan, dan ketidakjujuran pelajar yang ditampilkan oleh media, baik cetak maupun elektronik sekarang ini sudah melewati proses panjang. Budaya seperti itu tidak hanya melanda rakyat umum yang kurang pendidikan, tetapi sudah sampai pada masyarakat yang terdidik, seperti pelajar, bahkan juga melanda para elite bangsa ini.

Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak peserta didik, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia,dalam prosesnya yang alamiah ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku seseorang. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan harus memiliki kedisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Para pemimpin atau kepala sekolah harus mampu memberikan suri teladan mengenai karakter yang akan dibentuk tersebut.

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis yang melanda pelajar, bahkan tertular pada masyarakat bawah mengindikasikan bahwa pendidikan agama dan moral yang didapat di bangku pendidikan tidak berdampak terhadap perubahan perilaku manusia Indonesia. Bahkan yang terlihat adalah begitu banyak manusia Indonesia yang tidak koheren antara ucapan dan tindakannya. Kondisi demikian, diduga berawal dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan.

Proses pembelajaran yang cenderung mengajarkan hanya pada dimensi kecerdasan intelektual atau kognitif semata, sehingga menimbulkan kesan bahwa dimensi kecerdasan emosional dan dimensi kecerdasan spiritual terabaikan. Karena itu pendidikan karakter adalah sebuah keniscayaan menuju SDM paripurna, harapan dan dambaan kita semua, bangsa dan negara. SDM paripurna dalam tulisan ini dimaknai sebagai sosok SDM yang memiliki kepribadian yang utuh atau kepribadian yang berkarater. Untuk itu lembaga pendidikan sebagai institusi formal berperan penting untuk membentuk pelajar atau anak bangsa yang berkarakter yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan dimensi kecerdasan intelektual pada abad 21 akan tetapi juga pengembangan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

Berdasarkan fenomena di atas, maka SMP BPI 1 memberikan solusi untuk para orang tua siswa yang memfasilitasi pembentukan karakter salah satunya adalah BINTALIS atau pembiasaan Kajian dhuha.

 

  1. PEMBAHASAN
    1. Pendidikan Karakter

Pendidikan adalah proses internalisasi budaya kedalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Jadi, pendidikan merupakan sarana strategis dalam pembentukan karakter. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Ki Supriyoko (2004:419) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah sarana strategis untuk meningkatkan kualitas manusia. Untuk dapat memahami pendidikan karakter itu sendiri, kita perlu memahami struktur antropologi yang ada dalam diri manusia. Struktur antropologi manusia terdiri atas jasad, ruh, dan akal. Hal ini selaras dengan pendapat Lickona yang menekankan tiga komponen moral yang baik, yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral), moral action (perbuatan moral), yang diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan. Istilah lainnya adalah kognitif, afektif, psikomotorik. Untuk itu, dalam pendidikan karakter harus mencakup semua struktur antropologis manusia tersebut.

Pendidikan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal I Butir 1, pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujud kansuasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”

Untuk mengetahui pengertian karakter, dapat kita lihat dari dua sisi, yakni sisi kebahasaan dan sisi istilah. Menurut bahasa (etimologis) istilah karakter berasal dari bahasa Latin kharakter, kharassaein, dan kharax, dalam bahhasa Yunani character dari kata charassein, yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Dalam bahasa Inggris character dan dalam bahasa Indonesia lazim digunakan dengan istilah karakter.

Sementara menurut istilah (terminologis) terdapat beberapa pengertian tentang karakter, sebagaimana telah dikemukan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai berikut:Hornby and Parnwell (1972) mendefinisikan karakter adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi.Tadkirotun Musfiroh (2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), prilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti tomark atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Seseorang tidak dapat dituntut untuk cerdas intelektualnya (IQ) saja, ataupun sebaliknya. Seseorang dituntut hanya cerdas emosional (EQ) ataupun spiritualnya (SQ) saja. Tiga kecerdasan inilah yang bekerja secara holistik sehingga membentuk akhlakul-karimah. Maka, kecerdasan ini harus saling seimbang sesuai dengan tujuannya. Karena jika hanya cerdas intelektualnya saja tidak diimbangi dengan  cerdas emosi serta cerdas spiritual maka hasilnya pun tidak akan membentuk manusia paripurna yang kita banggakan.

Adapun program-program BINTALIS di SMP BPI 1 Bandung yang membantu untuk membentuk karakter peserta didik, yaitu terdiri :

  • Program harian
  • Program mingguan, dan
  • Program Bulanan.

Untuk program harian yakni program Bimbingan Mental Ajaran Islam (Bintalis). Sedangkan untuk program mingguannya adalah program Religi Club yang diterdapat dalam program kokurikuler SMP BPI 1 Bandung. Sedangkan untuk program bulanan yakni program Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit). SMP BPI 1 pun Selalu memberikan kesempatan untuk peserta didik yang di luar Islam untuk selalu beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh kesalahan fatal, yaitu "education without character" (pendidikan tanpa karakter). Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: "Intelligence plus character... that is the good od true education" (Kecerdasan plus karakter... itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga, Theodore Roosevelt yang mengatakan: "To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society" (mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman berbahaya kepada masyarakat). Pendapat Mahatma Gandhi ini dapat dimaknai bahwa pendidikan yang hanya berorientasi pada pembentukan kecerdasan intelektual dan menafikkan kecerdasan emosional dan spiritual justru akan melahirkan sosok SDM yang gemar melakukan perbuatan dosa (seperti korupsi, tidak jujur, tida amanah, tidak bertanggung jawab, dan lain-lain).

 

 

    1. Dampak Pembentukan Karakter Di Abad 21

Dampak pembentukan karakter ini dapat terjadi dua hal. Pertama dampak positif dan kedua dampak negatif. Dampak postif dari pembentukan karakter di abad 21 ini, seluruh peserta didik memiliki benteng pertahanan masing-masing. Bahkan dapat menyeimbangkan kemampuan kognitif peserya didik. Selain itu, dapat membangun kepekaan peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga dapat membangun rasa empati perserta didik. Serta melatih emosi siswa menjadi lebih stabil atau tidak emosional berlebihan. Sehingga pengaruh abad 21 tidak perlu ditakuti lagi. Tetapi jika pengaruh itu berdampak negatif maka rendahnya rasa empati terhadap sesama serta tidak dapat mengontrol emosi peserta didik. Bahkan cenderung hanya cerdas dalam bidang intelektualnya saja (IQ).

 

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1.    SIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka kesimpulannya adalah :

  • Adanya keseimbangan antara cerdas intelektual, cerdas emosi dan cerdas spiritual
  • Pembentukan paripurna di era teknologi ini bukan hanya tanggung jawab orang tua saja, tetapi pendidik atau lembaga pun wajib membimbing mereka.
  • Pendidikan karakter adalah sebuah keniscayaan menuju SDM paripurna, harapan dan dambaan kita semua, bangsa dan negara. SDM paripurna dalam tulisan ini dimaknai sebagai sosok SDM yang memiliki kepribadian yang utuh atau kepribadian yang berkarater.
  • Pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan memerlukan proses yang cukup panjang.
  • Bintalis salah satu proses yang dapat menerapkan pembiasaan secara berkelanjutan.
  • Pentingnya wadah untuk membentuk karakter peserta didik diabad 21 ini.

 

3.2.    SARAN

  • Adanya dukungan dari seluruh pemangku jabatan.
  • Kecerdasan spirutal (SQ) sangat dibutuhkan di abad 21 ini, bukan hanya dalam satu keyakinan saja tetapi keyakinan yang lainnya pun memiliki tujuan yang sama yaitu melahirkan atau membentuk karakter di abad 21 yang tangguh, memiliki empati dengan makhluk ciptanyaan-Nya.
  • Masyarakat tepatnya orang tua giat mencari pendidikan yang memiliki program pembentukan karakter.
  • Jangan merasa kuno dengan pembiasaan Bintalis, mencoba membuka mata betapa pentingnya pembisaan Bintalis di abad 21 ini.
  • Dengan adanya pembiasaan bintalis, bukan berarti pendidikan cenderung pada agama tersebut. Tetapi pendidikan ini mengajarkan toleransi terhadap yang berbeda agama.

 

  1. PENUTUP

Abad 21 yaitu suatu masa yang sedang terjadi dengan berbagai pengaruh baik di dalam maupun di luar. Masa ini tidak bisa kami hindari, melainkan harus dijalani seiring dengan kehidupan kita semua. Masa ini pun telah melahirkan anak bangsa yang begitu cerdas dalam intelektualnya (IQ), tetapi kecerdasan itu tidak hanya dalam IQ saja. Pentingnya kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) pun diperlukan untuk mengimbangi kecerdasan intelektualnya. Pembentukan karakter di abad 21 ini sangat diminati oleh masyarakat. Rasa kekhawatiran diabad ini cukuplah tinggi. Karena masyarakat menginginkan kolaborasi antara kecerdasan intelektal (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ).

 

DAFTAR PUSTAKA

Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasi Dalam Lembaga Pendidikan , (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hlm. 2.

Masnur Muslich, “Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional”, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), Cet. IV. hlm. 75.

Heri gunawan, “Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi”, (Bandung: Alfbeta, 2014), hlm. 1.

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1984. Konsep Pendidikan Dalam Islam, Bandung: Mizan. Baharuddin, 2007, Paradigma Psikologi Islami Studi Tentang Psikologi Dari Al-Qur? an, Yogyakarta:

Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi, Bandung: Alfbeta.

R.I. Sarumpaet. Rahasia Mendidik Anak (Bandung: Indonesia Publishing House, 2001), h. 12

Hasan, Iqbal, M. 2002. Metodelogi Pendiidikan dan Applikasinya, Jakarta: Ghalia Indonesia

Lickona, Thomas. 2015. Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility, Jakarta: PT.Bumi Aksara, Cet. IV.

Muslich, Masnur, 2014. Pendidikan KarakterMenjawabTantangan Krisis Multidimensional, Jakarta:Bumi Aksara.

Majid, Abdul dan Andayani, Dian. 2011. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mardalis. 1999. Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta:Bumi Akasara.

Salahudin, Anas. 2013. Pendidikan Karakter: Pendidikkan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa,

Bandung: Pustaka Setia.

Shobron, Sudarno Dkk. 2014. Buku Pedoman Penulisan Tesis, Surakarta: UMS Pascasarjana.

Tobroni. 2010. Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam. http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/11/24/pendidikan-karakter-dalam-perspektif-islam- pendahulan/

 Wahyudi, M Jindar. 2006. Nalar Pendidikan Qur?ani, Yogyakarta: Apeiron Philotes. Zubaedi. 2011.DesainPendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasidalam Lembaga Pendidikan,

Kencana.

Zuriah, Nuzul. 2009. Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.