ARTIKEL

  • User : admin smp
  • Date : 13/08/2022 18:26:54
  • Dilihat : web counter Kali

MEMBUMIKAN NILAI-NILAI AKHLAKUL KARIMAH MELALUI TRANSFORMASI DIGITAL DAN MENTAL PROGRAM BINTALIS DI SMP BPI 1 BANDUNG

BINTALIS DAPAT MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN DI ABAD 21

“Membumikan nilai-nilai akhlakul karimah melalui transformasi digital

dan mental  Program Bintalis  di SMP BPI 1 Bandung “

Oleh : Diki Hidayat,S.Pd.I  (Guru PAI SMP BPI 1 Bandung)

 

“ Scince without religion is lame. Religion without science is blind “

Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang.

Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta

                                                                                               Albert Einstein

  1. PENDAHULUAN

Abad 21 (21st century) merupakan abad yang penuh dengan tantangan.  Daniel Bell sebagaimana dikutip Mochtar Buchori menyebutkan adanya lima tantangan di abad ke-21; yaitu integration of economy, fragmentation of politic, interdependence, high technologi, dan new colonization in culture.  Tantangan yang ditimbulkan abad ke-21 ini baik langsung atau tidak langsung berdampak pada terjadinya krisis di bidang karakter.

Tantangan yang pertama adalah integration of economy (penyatuan dalam perdagangan), menyebabkan timbulnya free market  (pasar bebas)  penuh dengan intrik dan politik memicu dan memacu persaingan yang tidak sehat. Dalam rangka  memperebutkan pasar, seorang pelaku ekonomi yang tidak memiliki nilai-nilai agama yang baik, mereka cenderung akan berperilaku seperti binatang, hilang akal sehatnya lepas kendali hatinya, menghalalkan segala cara, tidak peduli mana yang halal dan yang haram, akibatnya riba merajalela, ghurur (menipu) menjadi makanan sehari-hari, maysir (judi) menjadi-jadi. Karakter orang yang seperti ini apabila di amanahi laut akan menjadi bajak laut, apabila di amanahi hutan akan menjadi orang utan, hidup dalam dua wujud, wujud tubuhnya manusia, wujud sifatnya adalah binatang.

Tantangan yang kedua adalah fragmentation of politic, memicu timbulnya perwujudan manusia model baru  yaitu human unlimited (manusia tidak terbatas) dalam memenuhi hasrat keinginannya, karena pada dasarnya manusia yang pikiran dan hatinya jauh dari nilai-nilai agama dipastikan kendali dari keinginannya adalah nafsu yang tidak akan ada batasannya, menerjang dan menyerang siapapun yang masuk/mengusik kepentingan dirinya.  Arief Budiman (1991) mengemukakan bahwa salah satu aspek ekspansi kapitalisme global adalah diciptakannya manusia-manusia yang serakah dan materialistis, sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sistem kapitalisme.

Tantangan yang ketiga adalah interdependence (saling ketergantungan), menyebabkan karakter manusia yang kurang percaya diri, kurang meyakini akan potensi dan kemampuannya sehingga manusia-manusia yang terlahir di abad 21 disebut manusia modern atau milenial, mereka lebih bergantung kepada teknologi, melekat dalam semua aktifitas, dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali tidak bisa lepas dengan yang namanya teknologi/alat modern, seperti hp, gadget, televisi, internet dll. Sebuah survey menunjukan bahwa lebih dari 19% remaja di Indonesia kecanduan internet. Ahli Adiksi Perilaku dr.Kristiana Siste mengatakan angka itu diperoleh berdasarkan survey kepada anak-anak dari 34 provinsi di Indonesia. Survei tersebut dilakukan kepada ribuan generasi muda di Indonesia pada Mei sampai Juli 2020. “ Hasilna adalah 19,3% remaja dan 14,4% dewasa muda kecanduan internet,” kata Siste dalam konferensi pers daring pada sabtu (2/10). “ Sejumlah 2.933 remaja mengalami peningkatan durasi online dari 7,27 jam menjadi 11,6 jam per hari. Itu meningkat 59,7%,” tuturnya.

Tantangan ke empat adalah high technologi (teknologi canggih/modern). Hal ini  memungkinkan bagi orang-orang yang tidak memiliki dasar agama sebagai pondasi utamanya, maka akan cenderung menyalahgunakan untuk memprovokasi, memfitnah, adu domba, membunuh karakter, dan sebagainya.

Tantangan ke lima adalah new colonization in culture (penjajahan baru di bidang kebudayaan). Pengaruh negative dari globalisasi adalah euphoria buaya yang meresahkan, sehingga pengaruh budaya barat yang negatif sulit sekali dikontrol dan di filter, akibatnya akan membentuk suatu budaya baru bagi masyarakat, khususnya kaum muda remaja menjadi manusia yang terjebak dalam arus budaya yang hedonis, kapitalis, dan liberalis.

Berdasarkan pemaparan mengenai fenomena tantangan abad 21 di atas, setidaknya ada dua metode internalisasi yang ditawarkan, yaitu metode refleksi melalui pendidikan  yang intensif dalam pola pemberdayaan dan pengembangan potensi  dan pembinaan melalui emanasi karakter serta pembinaan akhlakul karimah. Keduanya saling komplementer dan tidak dapat dipisahkan jika hendak melawan arus budaya pop maka refleksi pendidikan dan pembinaan karakter merupakan salah satu solusi untuk menangulanginya.

Dengan melihat latar belakang di atas, sangat diperlukan motivasi yang kuat dan strategi yang hebat untuk bekerjasama dan sama-sama bekerja dalam mewujudkan suatu tatanan sekolah/pendidikan  yang paripurna yaitu sekolah yang istiqomah mengusung nilai-nilai akhlakul karimah dengan pembiasaan ibadah dan tilawah.

Mengingat krisis yang tengah berlangsung di tengah-tengah masyarakat; krisis nilai-nilai hidup, krisis moral dan akhlak yang menyebabkan timbulnya kuman (kurang iman).  Maka untuk pemulihannya diperlukan upaya keras dan kerja cerdas yang berorientasi pada pembangunan kesadaran kolektif untuk saling cerdas mencerdaskan, dan berdaya-memberdayakan.  Maka sebagai respon dari tantangan diatas, penulis  termotivasi dengan tergeraknya hati untuk membumikan nilai-nilai akhlkaul karimah melalui transformasi digital dan mental program bintalis di lingkungan SMP BPI 1 Bandung  yang mewadahi seluruh kegiatan keagamaan dan pembinaan akhlak di SMP BPI 1 Bandung dengan pembiasaan ibadah dan tilawah. Hal tersebut dalam rangka menyikapi dan mencari solusi terhadap persoalan-persoalan dengan berusaha  menjadi agent  of change di tengah-tengah masyarakat dan problem solver bagi pemerintah dalam mendidik, membina dan mengarahkan anak-anak remaja agar cerdas intelektualnya, spiritualnya dan emosionalnya sehingga lulusan dari SMP BPI 1 Bandung menjadi siswa/i yang unggul berprestasi dan dipercaya. 

 

  1.  PEMBAHASAN
  1. Sejarah Singkat BINTALIS

Siapa warga BPI yang tidak tahu dengan BINTALIS ?. Semua warga BPI pasti mengetahui tempat yang satu ini. BINTALIS merupakan tempat favorit untuk seluruh warga BPI melaksanakan ibadah, seperti shalat dhuha, shalat dzuhur dan ashar, tadarus, kajian dan kegiatan agama yang lainnya. Tempatnya berada di lantai 3 paling atas dari bangunan Yayasan BPI. Walaupun banyak dari warga BPI yang sering melaksanakan ibadah di BINTALIS, akan tetapi boleh jadi banyak warga BPI yang belum tahu tentang sejarah BINTALIS.

Berpedoman dari tekad yang kuat dan hati yang bersih para pendiri BPI sehingga menggetarkan dan menghantarkan frekuensi energi kebaikan melalui mimpinya salah satu pendiri BPI yaitu Bapak Soetardjo Sintoe Mihardjo, dalam mimpinya beliau melihat seluruh karyawan BPI memakai peci putih. Dari mimpi tersebut beliau terinspirasi untuk mengadakan manasik haji. Dari sanalah bermula gagasan untuk mewadahi  kegiatan keagaman bagi seluruh warga BPI. Sungguh i’tikad yang mulia dari para pendiri BPI untuk membumikan nilai-nilai pendidikan dan keagamaan dengan mendirikan BINTALIS.

BINTALIS secara resmi berdiri sekitar tahun 1987 hasil dari musyawarah dan gagasan para pengurus Yayasan BPI pada waktu itu. Pendirinya Bapak Syarif Syahidin sekaligus menjadi Ketua BINTALIS pertama. Kemudian dilanjutkan estafeta kepemimpinan BINTALIS oleh Bapak Nana Sukarna generasi ke dua. Setelah selesai kepemimpinan Bapak Nana Sukarna, kemudian dilanjutkan oleh Bapak Iyo sebagai generasi ke tiga. Kemudian dilanjutkan oleh Bapak H. Abdul Rojak sebagai ketua BINTALIS generasi ke empat. Setelah kepemimpinan Bapak H. Abdul Rojak selesai, dilanjutkan oleh Bapak Drs.H. Iyep Sobari, M.M.Pd sebagai ketua BINTALIS generasi ke lima. Beliau merupakan perintis pertama di adakannya kegiatan shalat dhuha di BINTALIS yang di dalamnya ada tadarus Al-Quran bersama, membaca asmaul husna dan ceramah. Setelah kepemimpinan beliau selesai, kemudian dilanjutkan oleh Bapak Drs. Asep Sukarman,M.M.Pd sebagai ketua BINTALIS generasi ke enam. Kemudian dilanjutkan oleh Bapak Ajat Sudrajat,S.Pd sebagai ketua BINTALIS  generasi ke tujuh. Setelah kepemimpinan beliau selesai dilanjutkan oleh Bapak Ustd. Agus Salim,S.Pd.I.,M.Pd sebagai ketua BINTALIS generasi ke delapan (tahun 2021 s/d sekarang). Alhamdulillah dari masa kepemimpinan beliau mulai membenahi program-program kegiatan keagamaan dan pembinaan akhlakul karimah menjadi lebih baik lagi seperti kegiatan pesantren Ramadhan, shalat idul adha, kurban, bakti sosial, pengelolaan undian umroh dan pembiasaan shalat dhuha, dzuhur dan ashar berjamaah.

  1. Masalah dan Tantangan Pembinaan Akhlakul Karimah Abad 21

Untuk mengawali pembahasan yang terperinci mengenai masalah dan tantangan pembinaan nilai-nilai akhlakul karimah abad 21 ini, mari kita perhatikan simulasi gambar dibawah ini.

 

Gambar di atas memperlihatkan sebuah gelas yang kondisinya setengah isi, yaitu terisi setengahnya dengan air. Jika sepintas kita lihat memang betul, mata kita hanya melihat di dalam gelas  hanya ada air yang mengisi setengah dari gelas tersebut, dan sebagian lagi kosong. Jika diperkuat lagi dengan sebuah pertanyaan, apakah gelas tersebut setengah isi atau setengah kosong? maka banyak orang yang menjawab setengah isi dan sebagian lagi menjawab setengah kosong. Tentu jawaban keduanya tidak terlalu salah, hanya kurang sempurna saja, karena keterbatasan pandangan mata kita. Mari kita lihat sekali lagi dengan pandangan mata yang disambungkan dengan rasa di hati, ada apakah di dalam gelas tersebut?. Saya akan mencoba memberanikan diri menjawab bahwa kondisi gelas tersebut tidak ada yang kosong, ruangan gelas yang kita lihat setengah kosong sebenarnya penuh terisi oleh udara (oksigen) dan sebagian lagi terisi oleh air. Karena gelasnya terbuka justru unsur udara (oksigen) yang tidak terlihat lebih banyak dari pada air. Itulah gambaran dari potensi kita yang lebih besar dari pada kelemahan kita, itulah gambaran dari peluang kita yang lebih besar dari pada masalah kita. Dibalik satu masalah tersimpan seribu peluang untuk berubah.

Mari kita fokuskan secara spesifik pembahasan ini dengan melihat keadaan dan kondisi di lingkungan SMP BPI  yang dikhususkan untuk  siswa/inya, respon/minat orangtua menyekolahkan putra/inya di SMP BPI dan sumber daya tenaga pendidiknya. Dalam hal ini kami mencoba menggali problem/masalah yang terjadi di lingkungan SMP BPI dengan menggunakan model NLL (Neuro Logical Level) model yang dikembangkan oleh Robert Dilts berdasar pada teori level-level perubahan  Gregory Bateson ini merupakan salah satu usaha NLP generasi kedua untuk menyusun sebuah unified theory, yang menyatukan beragam teknik dan model NLP (Neuro Linguistic Programming)

NLL mengajarkan kita sebuah skema untuk mengenali sebuah kondisi, dan melakukan pemetaan untuk menentukan intervensi yang akan digunakan. Kaidah dasarnya, masalah di satu level, bisa diatasi dengan paling tidak mengintervensi minimal 1 level di atasnya. Maka permasalahan di level perilaku, perlu diatasi minimal di level kemampuan. Model aslinya berbentuk hirarki. Namun kemudian sedikit kami modifikasi menjadi seperti di bawah ini, sebab menurut kami lebih pas. Karena tidak saja level yang di atas menaungi yang di bawah, namun juga melingkupi keseluruhan level yang di bawahnya.

 

NLL (Neuro Logical Level)

  1. Environmental (Lingkungan)

Tahap masalah di level pertama adalah lingkungan, baik secara internal di lingkungan sekolah SMP BPI (siswa/i saling pengaruh mempengaruhi dengan lisan, sikap dan perilaku) maupun eksternal di luar lingkungan sekolah, di lingkungan keluarga, masyarakat. Lingkungan merupakan  tahap pembentukan karakter dasar, baik itu pengaruhnya yang negatif maupun yang positif. Untuk menanggulangi masalah tersebut,perlu di filterisasi dari proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) dari mulai seleksi, pembinaan siswa baru dengan mengadakan program  pembinaan generasi Qur’ani satu tahun sekali di awal tahun ajaran baru bekerjasama dengan pondok pesantren/tim asatidz khusus. Dan jika terjadi masalah di level environment/lingkungan, maka salah satu cara mengubahnya adalah dengan mengubah level di atasnya yaitu level behaviour/perilaku.

 

  1. Behaviour (Perilaku)

Tahap masalah di level kedua adalah perilaku, di tahap ini merupakan tahap proses dari nilai-nilai yang di adopsi dari ineraksi siswa dengan lingkungan sekitar, memodel apa yang dilihat, di dengar  dan dirasakan oleh siswa/i secara berulang-ulang. Hal ini menimbulkan dampak yang sangat signifikan dari perubahan sikap, ucapan dan karakter siswa/i di lingkungan SMP BPI. Secara umum perilaku siswa/i SMP BPI alhamdulillah terkondisikan baik, namun tidak bisa dipungkiri pasti ada beberapa siswa/i di SMP BPI yang perlu dibina perilaku dan sikapnya, rata-rata dari setiap kelas 7,8 dan 9  yang jumlah siswanya 25-30/kelas ada sekitar 2 s/d 4 orang siswa yang perlu mendapatkan pembinaan lebih dalam kaitan pembinaan akhlakul karimah. Solusinya adalah dengan program pembinaan islam intensif yang dilaksanakan setiap hari senin s/d jum’at yang di dalamnya di isi dengan tilawah Al-Qur’an, tahsin, shalat dhuha, kajian ilmu fiqih, aqidah, dan akhlak. Dan jika terjadi masalah di level behaviour/perilaku, maka salah satu cara mengubahnya adalah dengan mengubah level di atasnya yaitu di level capabilities/kemampuan.

  1. Capabilities (Kemampuan)

Tahap masalah di level ketiga adalah kemampuan, pada tahap ini siswa/i yang masuk ke SMP BPI sangat beragam kemampuan dan potensinya terutama kemampuan dalam baca tulis Al-Qur’an dan amaliyah ibadah sehari-hari.  Ada 3 kondisi/keadaan siswa/i SMP BPI ketika awal masuk di SMP BPI melalui seleksi yaitu, sudah lancar baca Al-Qur’an (20%), masih terbata-bata (45%) dan masih iqra/belum bisa baca Al-Qur’an (35%). Solusinya adalah dengan membuat program kegiatan BTAQ (Baca Tulis Al-Qur’an) yang merupakan ekskul wajib dilaksanakan setiap hari senin. Dan jika terjadi masalah di level capabilities/kemampuan, maka salah satu cara mengubahnya adalah dengan mengubah level di atasnya yaitu level belief & value/keyakinan & nilai.

  1. Belief & Value (Keyakinan & Nilai)

Pada tahap ini merupakan penggabungan dari masalah dan tantangan yang muncul dari stakeholder yaitu harapan masyarakat/orangtua siswa dan tantangan untuk penyedia layanan pendidikan dalam hal ini adalah SMP BPI. Sekolah berbasis pembinaan akhlak yang outcomenya jelas, terukur dan terintegrasi dalam semua kegiatan belajar mengajar di sekolah merupakan sekolah yang sangat diminati oleh semua orangtua.  Jika SMP BPI sudah mencoba mewujudkan apa yang menjadi harapan orang tua yaitu mampu membentuk generasi-genarasi pelajar yang berakhlakul karimah, Insya Allah SMP BPI akan menjadi sekolah yang dipercaya dan diminati oleh banyak orang, sehingga berdampak kepada mudahnya dalam proses PPDB. Solusi yang ditawarkan adalah dengan memberikan informasi secara menyeluruh mengenai kegiatan pembinaan akhlakul karimah di SMP BPI yang bisa di akses melalui chanel youtube, live instagram dan landing page. Hal ini memberikan ruang terbuka kepada banyak orang untuk mengetahui program kegiatan keagamaan di SMP BPI yang menjadi harapan  banyak orang. Solusi yang lainnya adalah dengan memberikan layanan semi training diantaranya :

        1. NHQ (Neuro Hypno Qur’anic) for Parenting

Pelatihan khusus untuk pembinan dan bekal kepada orangtua tentang bagaimana mendidik anak dengan cara yang terbaik menurut tuntunan Al-Qur’an. Orangtua di ajarkan bagaimana melatih dan membiasakan bahasa pemograman yang positif kepada anak, kekuatan do’a dan pemberian makna.

        1. NHQ (Neuro Hypno Qur’anic) for Student

Pelatihan khusus untuk mencetak generasi pelajar yang Qur’ani dan berakhlakul karimah. Pelatihan ini di design dengan pemanfaatan dan pengembangan pikiran bawah sadar siswa untuk di arahkan menjadi pelajar yang sadar dan tahu akan potensinya sehingga mampu dan mendorong niat yang kuat dari dirinya sendiri untuk bangkit menjadi pelajar yang berkarakter, unggul dan berprestasi.

        1. NHQ (Neuro Hypno Qur’anic) for Teaching

Pelatihan ini dirancang khusus untuk para guru yang di dalamnya di ajarkan substansi atau ruh nya mengajar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an berbasis hypnotherapy dan ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming).

Dan jika terjadi masalah di level belief & value/keyakinan & nilai, maka salah satu cara mengubahnya adalah dengan mengubah level di atasnya yaitu level identity/identitas.

 

  1. Identity (identitas/Jati diri)

Branding Image SMP BPI sebagai sekolah swasta yang intensif mengembangkan nilai-nilai akhlakul karimah dengan program-program unggulannya menjadi ciri khas dan nilai plus yang sangat berharga untuk SMP BPI 1 Bandung kedepannya. Pembentukan identitas/karakter guru, orangtua dan siswa yang ber-akhlakul karimah dengan program-program diatas akan memberikan dampak yang signifikan mengenai nilai-nilai perubahan. Tentunya dampak yang sangat baik bagi citra diri SMP BPI sebagai sekolah swasta yang mampu mengusung dan istiqomah menerapkan dan mengaplikasikan nilai-nilai akhlakul karimah. Dan jika terjadi masalah di level identity/identitas, maka salah satu cara mengubahnya adalah dengan mengubah level di atasnya yaitu level spirituality/nilai spiritual.

 

  1. Spirituality (Nilai Spiritual)

Di level ini merupakan level puncak terkait dengan masalah dan tantangan serta pencapaian antara siswa, orangtua, guru dan sekolah perwujudannya dalam visi dan misi sekolah untuk perubahan kultur menuju sekolah yang beradab dan berakhlakul karimah sehingga visi misi yang terakhir tiada lain untuk menciptakan generasi yang cerdas spiritualnya. Nilai-nilai spiritual ini dibentuk melalui proses yang intensif, setiap hari, setaip waktu, setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun. Salah satu solusinya adalah dengan membuat program MABIT (Malam bina Iman dan Taqwa) yang rutin dilaksanakan satu bulan sekali dengan menginap satu malam di SMP BPI. Program yang lainnya adalah membuat kegiatan Wisuda Tahfidz dan Imtihan yang digelar satu tahun sekali sebagai bukti keseriusan SMP BPI dalam mewujudkan generasi Qur’ani yang cinta terhadap Al-Qur’an.

 

  1. Digitalisasi Program BINTALIS

Untuk mempermudah percepatan informasi dan kebermanfaatan yang lebih dari program BINTALIS, ada Sebagian program yang padukan dengan digitalisasi. Kami memiliki konsep 4 T (Takholi, Tahali, Tajali, Training)

Program 4 T

  1. TAKHOLI

(Cleansing/Proses Pembersihan)

  1. Seleksi siswa baru dengan klasifikasi kls untuk BTAQ menggunakan google form
  2. Pembinaan Dasar Generasi Qur’ani

 

  1. TAHALI (Programming/Proses pemrograman)

a.Pembinaan Ibadah

- Pembiasaan Shalat Dhuha dan kajian dhuha live di IG supaya bisa di akses oleh seluruh    masyarakat

- Shalat Dzuhur Berjamaah

- Shalat Ashar Berjamaah

 

b. Pembinaan Tilawah

- Tahsin Al-Quran

- Tilawah/Tadarus

-Tahfidz Al-Quran metode Tikror

- Audio murotal

 

  1. TAJALI (Penyelarasaan Program Religi Club)
  1. HARIAN
  • Study Islam Intensif Dhuha-BINTALIS setiap hari senin s/d jum’at

Dari pkl. 06.20 s/d 07.20

  1. MINGGUAN
  • BTAQ ( dilaksanakan setiap hari senin pkl 14.30 s/d 15.30)
  • Tahfidz (dilaksanakan setiap hari rabu pkl 14.30 s/d 15.30)
  1. BULANAN
  • MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) setiap 1 bulan sekali di minggu terakhir

 

  1. TAHUNAN
  • Pesantren Ramadhan
  • Qurban Idul Adha
  • Wisuda Tahfidz & Imtihan

 

  1. TRAINING
  1. NHQ For Student
  2. NHQ For Teaching
  3. NHQ For Parenting

 

  1. Digitalisasi Pembuatan Landing Page dan aplikasi android BINTALIS
  1. KESIMPULAN  DAN SARAN

Semua program yang dibuat pasti memiliki tujuan dan muaranya kepada nilai-nilai akhlakul karimah. Kesimpulan dari program BINTALIS ini terdiri dari output dan outcome melalui program, target behaviour dan capabilities.

  1. Output

Program

  1. Konsep profile Religi Club (Program Keagamaan – Branding Image SMP BPI dalam bentuk video cinematic)
  2. Terintegrasinya program-program kegamaan di SMP BPI dengan dibuatnya account chanel youtube dan instagram
  3. Landing Page Promosi PPDB  Khusus Edukasi Program Akhlakul Karimah
  4. Formulir seleksi PPDB bid. Akhlakul Karimah/klasifikasi Kls BTAQ
  5. Jadwal Kegiatan Dhuha Intensif
  6. Jadwal Kegiatan BTAQ
  7. Panduan Materi Guru BTAQ
  8. Audio murotal juz 30 (setiap hari senin-kamis – menjelang istirahat ke dua)
  9. Jadwal Kegiatan MABIT
  10. Target Hafalan Tahfidz perhari (min. 2-5 ayat sehari)
  11. Mushaf Al-Qur’an  Tikror

 

Behaviour & Capabilities

  1. Terbentuknya generasi Qur’ani (Cinta Al-Qur’an)
  2. Terbiasa membaca Al-Qur’an
  3. Terbiasa mengamalkan 5 s (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun)
  4. Terbiasa melaksanakan shalat sunnah dhuha
  5. Terbiasa melaksanakan shalat dzuhur dan ashar berjamaah (shalat fardhu)
  6. Terbiasa berkata-kata baik
  7. Terbiasa berdoa sebelum dan sesudah belajar/kegiatan
  8. Hafal Juz 30 dan surat-surat pilihan
  9. Hafal do’a-doa harian
  10. Hafal kaifiyat ibadah (bacaan wudhu, tayamum, shalat dll)

 

  1. Outcome

Outcome Jangka Pendek

 

  1. Siswa/i SMP BPI terbiasa membaca Al-Qur’an dengan tahsin
  2. Siswa/I SMP BPI terbiasa menghafal Al-Qur’an (2-5 ayat perhari) dengan program BINTALIS
  3. Siswa/i SMP BPI  terbiasa melaksanakan shalat sunnah dhuha
  4. Siswa/i SMP BPI terbiasa melaksanakan shalat dzuhur dan ashar berjamaah di BINTALIS
  5. Siswa/i SMP BPI terbiasa mengucapkan salam ketika bertemu guru dan orang tua

 

 

Outcome Jangka Menengah dan Jangka Panjang

  1. SMP BPI dikenal oleh masyarakat secara luas khususnya di Kota Bandung dan umumnya secara nasional sebagai sekolah swasta yang memiliki ciri khas dalam program pembinaan akhlakul karimah
  2. Sekolah SMP BPI menjadi sekolah model yang diminati oleh masyarakat sebagai sekolah pilihan utama yang memadukan science dan religi dalam pembinaan akhlakul karimah.
  3. Gurunya berkualitas, siswa/i nya berkelas sehingga SMP BPI menjadi sekolah yang BERINTEGRITAS.

 

  1. REKOMENDASI DAN PENUTUP

Dari semua program BINTALIS di atas dapat penulis rekomendasikan untuk di niatkan dengan i’tikad yang kuat, bekerjasama dan sama-sama bekerja seluruh civitas akademika SMP BPI pada khususnya dan jika bermanfaat bisa diaplikasikan untuk warga BPI dan masyarakat pada umumnya. Dengan menjabarkan  dari motto SMP BPI “Unggul  Berprestasi dan Dipercaya “ dengan konsep  B I S A

 

  1. Branding Image (Sekolah/Lembaga)

Dengan program kegiatan kegamaan yang khas, terukur, terencana dan istiqomah akan membentuk Branding Image yang positif untuk SMP BPI khususnya, Yayasan BPI umumnya  sebagai sekolah swasta yang konsisten mengusung nilai-nilai kepesantrenan/nilai-nilai akhlak mulia dengan program BINTALIS. Hal ini se-frekuensi dan se-vibrasi dengan harapan orangtua untuk menitipkan putra-putrinya di Sekolah yang komitmen dengan nilai-nilai Akhlakul karimah

 

  1. Interesting (Masyarakat/orangtua)

Dengan mengkolaborasikan dan memadukan program kegiatan keagamaan secara komprehensif dari hulu ke hilir,maka akan memberikan perhatian dari stake holder yang utama yaitu masyarakat dalam hal ini orangtua siswa/i terhadap SMP BPI sebagai sekolah swasta yang intensif dan konsisten mendidik, membina siswa/i nya dengan bekal akhlakul karimah.

  1. Superior/Unggul (Siswa/Peserta Didik)

Sesuai dengan motto SMP BPI “ Unggul Berprestasi dan Dipercaya” maka dengan program-program unggulan dibidang keagamaan menjadi wasilah/perantara untuk mencetak Generasi yang Unggul dalam intelektual, emosional dan spiritual. Karena menurut beberapa penelitian, bahwa orang yang sudah unggul dalam nilai-nilai spiritualnya (akhlakul karimah) maka akan unggul dalam hal lainnya, seperti prestasi akademik, sosial dll.

  1. Achievment/Prestasi (Siswa & Guru)

Sesuai dengan motto SMP BPI “ Unggul Berprestasi dan Dipercaya” maka dengan program-program unggulan dibidang keagamaan menjadi wasilah/perantara untuk guru/tenaga pendidik menjadi prestasi tersendiri karena sudah menghantarkan  anak didiknya unggul

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Ghofur, Wahyono, Strategi Qur’ani Mengenai Diri Sendiri dan Meraih Kebahagiaan Hidup, (Yogyakarta:Belukar Budaya, 2004), cet. I.

 

Alfian, Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia, (Jakarta:LP3ES,  1981), cet. II.

 

Arief, Armai, Reformulasi Pendidikan Islam, (Ciputat:CRSD Press, 2007), cet. II.

 

Asmani, Jamal Ma’ruf, Tips Efektif Menjadi Sekolah Berstandar Nasional dan Internasional, (Jogjakarta:Hamoni,  2011), cet. I.

 

Bush, Tony and Les Bell, The Principles and Practice of Educational Management, ( London:A. SAGE Publications Company, 2002), First Published.

 

CNN Indonesia. (2021). Survei: 19,3 Persen Anak Indonesia Kecanduan Internet dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/2021 diakses 12 Agustus 2022 pkl 21.00 WIB

 

Fatah, Abdul, Budaya Toleransi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:Young Progressive Muslim, 2012), cet. I.

 

Fuller, Graham E., A World Without Islam, (New York, Boston, London:Little, Brown and Company, 2010), First Edition.

 

Imam Al Ghozali, Ihya Ulum al Din, jilid III, (Indonesia: Dar Ihya al Kotob al Arabi,tt), hlm. 52