ARTIKEL

  • User : admin smp
  • Date : 13/08/2022 21:07:15
  • Dilihat : web counter Kali

LABORATORIUM SEKOLAH SEBAGAI PENCETAK BIBIT–BIBIT ILMUWAN MUDA DI ABAD 21

LABORATORIUM SEKOLAH SEBAGAI PENCETAK BIBIT–BIBIT ILMUWAN MUDA DI ABAD 21

Oleh Nurlaela Lisdiawati

 

Laboratorium merupakan tempat kreatifitas siswa dalam bidang sains, pandemi seharusnya tidak serta merta mematikan kretifitas siswa dalam melaksanakan praktikum ataupun kemampuan melakukan riset ilmiah , namun terkadang karena keterbatasan banyak hal kita tidak bisa memaksimalkan fungsi dari laboratorium itu sendiri.

Laboratorium, sebenarnya merupakan salah satu tempat yang sangat disukai oleh siswa karena di laboratorium siswa bisa melakukan aktifitas, memadukan kegiatan kognitif, psikomotor , sikap dan orientasi kegiatan operasional yang kongkrit.

Laboratorium juga merupakan gambaran sebuah kecerdasan yang tepat, perhatian yang cermat dalam melakukan pengamatan yang menuntut interprestasi dan abstraksi, namun tidak semua guru memahami hal tersebut, sehingga keefektifitasan Laboratorium tidak optimal.

Laboratorium juga merupakan  suatu wahana yang dapat digunakan sebagai tempat belajar selain di kelas, yang dilengkapi dengan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk pembelajaran IPA. Menurut Standar Sarana dan Prasarana dari BNSP (2008), laboratorium IPA di sekolah berfungsi sebagai tempat pembelajaran IPA secara praktek yang memerlukan peralatan khusus yang tidak mudah dihadirkan di kelas. Keberadaan laboratorium ini terkait dengan perencanaan sarana dan prasarana sekolah yang harus memenuhi prinsip-prinsip perencanaan sarana dan prasarana sekolah harus betul-betul merupakan proses intelektual, perencanaan harus didasarkan pada analisis kebutuhan, perencanaan sarana dan prasarana sekolah harus realistis, visualisasi hasil perencanaan harus jelas dan rinci (Nurhadi,2018).

Jadi, langkah apa saja yang sekiranya perlu kita lakukan agar kita bisa mengoptimalkan fungsi dari laboratorium? Sehingga dari lembaga / kampus BPI ini terlahir bibit – bibit, calon – calon ilmuwan, para penemu di masa depan.

Perlu sekiranya kita sebagai lembaga / sekolah membuat rancangan agar kita bisa memaksimalkan fungsi dari laboratorium itu sendiri. Mengeluarkan serta meng-eksplorasi minat dan bakat siswa yang masih tersembunyi.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar laboratorium menjadi tempat yang menyenangkan, tempat melahirkan ilmuwan-ilmuwan muda yang memiliki kemampuan riset dalam menyongsong abad 21 , diantaranya :

  • Membuat metode yg menyenangkan bagi anak saat praktek di laboratorium.
  • Sering praktek d laboratorium
  • Sesering mungkin Buat study kasus untuk anak,  yg akan di teliti di laboratorium. Bisa dikerjakan sendiri atau kelompok. jangan terlalu banyak, dua atau 3 orang maksimal agar masing masing orang bisa  berfikir mengeluarkan potensinya
  • Buat kompetisi antar kelompok / kelas dan berikan penghargaan,  umumkan di mading atau media informasi sekolah sebagai salah  satu bentuk penghargaan..
  • Metode ini bisa untuk  menjaring bibit bibit potensial untuk pengembangan di KIR (Kelompok ilmiah Remaja)
  • Kemudahan ijin untuk bisa mengakses dan meng-ekplore laboratorium nya.
  • Pilih pembimbing yg visioner, berjiwa penemu, bukan pembimbing yang hanya bisa mempraktekkan apa yg sudah ada.
  • Masukkan menjadi bagian dari kurikulum sehingga jelas jadwal, pelaksanaan serta targetannya.
  • Dukungan dari pihak sekolah / lembaga baik berupa sarana maupun pendanaannya.
  • Memiliki target yang jelas dalam melakukan riset ilmiahnya
  • Selain memliki laboratorium secara fisik, juga memiliki Laboratorium Virtual ( software atau aplikasi ) untuk mendukung kreatifitas siswa dalam melakukan risetnya.
  • Membuat  tugas project akhir setiap semester atau akhir tahun.
  • Mengikuti lomba lomba yang di adakan didalam maupun luar negeri.
  • Bekerjasama dengan instansi terkait dalam menunjang kegiatan, khususnya dalam mendukung kemampuan riset di abad 21.

Sama seperti nyuruh anak mahir berenang tp praktek berenangnya sangat jarang  atau hanya berdasarkan teori saja tanpa didukung oleh prakteknya langsung

Satu hal yang tidak kalah penting adalah  adanya tekad yang kuat dari lembaga / sekolah untuk  menghasilkan ilmuwan-ilmuwan muda yang brilian dan visioner, karena jika itu semua tidak ada maka itu hanyalah menjadi wacana dan retorika semata.

Ada sebuah ungkapan dalam bahasa sunda  " Loba catur tanpa bukur "  yang artinya banyak bicara / teori namun pada kenyataannya praktek dilapangan tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Mari kita manfaatkan dan maksimalkan Laboratorium sekolah kita, agar dapat mencetak ilmuwan - ilmuwan muda yang inovatif dan berjaya di dunia pendidikan. Kita lahirkan Albert  Eistein  -  Albert  Eistein muda dari  BPI.