ARTIKEL

  • User : admin smp
  • Date : 13/08/2022 22:37:02
  • Dilihat : web counter Kali

Pendekatan Holistik Integralistik Futuris Pada Mata Pelajaran PPKn Melalui Metode Psikoanalisis Dalam Memecahkan Masalah Pendidikan Untuk Meningkatkan Kualitas Manusia Indonesia

Pendekatan Holistik Integralistik Futuris Pada Mata Pelajaran PPKn Melalui Metode Psikoanalisis Dalam Memecahkan Masalah Pendidikan Untuk Meningkatkan Kualitas Manusia Indonesia

 

Dtulis oleh

Jamaludin Akbar, M.Pd

 

 

Krisis ekonomi dari efek covid 19 berdampak terjadinya krisis berkepanjangan termasuk dunia Pendidikan. Terlebih bila Pendidikan dihadapkan pada tuntutan bangsa dalam memasuki millenium ke 3 reposisi Pendidikan seiring orientasi masyarakat Industri kemasyarakat madani memerlukan perumusan paradigma dalam memperkuat system Pendidikan nasional dalam semangat reformasi.

Masalah pendidikan dewasa ini semakin hari semakin bertumpuk dan berkait dengan masalah lainnya, bertambahnya tuntutan masyarakat terhadap pendidikan berdampak sulitnya masalah pendidikan. Banyak berbagai keritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak, hal ini menunjukan bahwa pendidikan oleh masyarakat makin di rasakan sebagai salah satu kebutuhan hidup. Terjadinya kondisi semacam ini dikarenakan paradigma masyarakat yang beranggapan bahwa sistem dan praktek pendidikan belum sepenuhnya menyentuh pada hasil dari proses pembelajaran itu sendiri. Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai-nilai agar menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupannya, sekaligus untuk memperbaiki nasib dan melahirkan peradaban umat manusia. Eksistensi kemanusiaan seseorang ditentukan oleh proses pendidikannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.

 

Posisi lembaga pendidikan mengalamai reposisi penguatan pada pengembangan SDM kependidikan dan memperkuat daya dukung epistemologis ilmu pendidikan dengan pendekatan kualitas nilai dan moral bangsa serta efesiensi dan partisipasi sosial semakin dituntut untuk mengoptimalkan seluruh aset pendidikan nasional. Pendekatan psikologi Pendidikan sangat penting untuk digunakan dalam mencari dasar-dasar pendidikan moral bagi masyarakat Indonesia yang berfalsahkan Pancasila, maka untuk meningkatkan kualtitas pendidikan, hendaknya nilai agama/ dalam hal ini pendidikan agama islam dapat dijadikan sumber utama.

Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai-nilai agar menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupannya, sekaligus untuk memperbaiki nasib dan melahirkan peradaban umat manusia. Eksistensi kemanusiaan seseorang ditentukan oleh proses pendidikannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.

Muchtar (2001, hlm. 71) menegaskan bahwa “Pendekatan Integralistik menemaptkan masalah Pendidikan merupakan bagian yang integral dari masalah social budaya, konsekuensi keharusan menggunakan pendekatan interdisipliner dan multi disiplin dalam menganalisa masalah social”. Tanpa pendekatan ini tersayat dalam bagian kecil alternatif bersifat sektroral dan temporal sehingga banyak diwujudkan dalam bentuk tambal sulam, meallui pendekatan futuris yang menggati spasi Pendidikan menjorok kpada masa mendatang. Pendekatan pemecahan masalah Pendidikan didsarkan atas antisipasi perubahan social pada masa mendtang.

Yayasan Pendidikan BPI Bandung memiliki lingkungan strategis internal dan eksternal sekolah yang dapat mempengaruhi dan dipandang mampu dan mempertahanakan  potensi positif untuk kemajuan sekolah dan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan Yayasan Pendidikan BPI. Salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan di BPI diantaranya ialah Lesson Study, dimana yayasan BPI khususnya SMP BPI bekerjasama dengan negara Jepang dan beberapa negara besar lainya. Kemudian dalam upaya meningkatkan kompetensi guru dan siswa melalui metode-metode pembelajaran yang muktahir yang di dukungan keadaan dunia dalam menghadapi kompetensi abad 21 yakni melibatkan projek dunia dalam meningkatkan kredibilitas pendidikan yakni STEAM, dari sebuah pendekatan pembelajaran interdisiplin antara Science, Technology, Engineering and Mathematics. Namun, penyusun memiliki paradigma lain dalam upaya meningkatan kualitas pendidikan itu sendiri, yakni melalui pendekatan budaya, di BPI sendiri sudah terlaksana pembealjaran melalui pendekatan budaya kedaerahan, namun menurut kami masih belum menyeluruh dan tidak menyentuh ruh dari budaya itu sendiri, oleh karena nya pradigma penulis kuat akan aktualisasi pemetaan peserta didik yang terintegrasi melalui psikoanalisis dengan hasil dan dampak dalam manusia yang berkualitas tinggi.

Globalisasi menjadi isu besar menjelang millennium ke 3 dalam era dunia tanpa abatas (the best bordless world), arus informasi dan barang mengalir tanpa hambatan dari suatu negara kenegara lain. Memungkinkan wawasan dan pemahan terhadap kemajuan bangsa lain. Suatu keajdian yang terjadi pada suatu tempat di dunia ini akan cepat diketahui langsung pada saat peristiwa itu berlangsung. Penguasaan tentang informasi menjadi sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, namun bebasnya arus informasi diperlukan kualitas Sumber daya manusia untuk dapat mengakses dan memanfaatkannya bagi kepentingan kualitas hidup, disini tantangan untuk dapat menguasai ilmu dan teknologi dalam arti yang luas. Penguasaan teknologi dapat membawa dampak positif dan negative bagi kehidupan masyarakat, semuanya akan tergantung pada kualitas SDM nya. Pendidikan memiliki peluang yang banyak untuk emnciptakan kondisi berkemabnganya potensi mansuia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan membudayakan etos ekrja dalam kerangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang dihadapkan dengan krisis nilai moral yang ikut hidup dalam perkembangan zaman.

Krisis nilai moral yang dialami oleh para peserta didik merupakan sebuah fenomena yang terjadi dewasaa ini. Tawuran antar pelajar, komunitas menyimpang dari nilai-nilai dan norma masyarakat, sampai penggunaan obat-obat terlarang, serta perbuatan tidak terpuji lainnya. Keresahan dikalangan para orang tua terutama tentang keselamatan anaknya sehingga ia mengantar anak kesekolahnya dengan penuh cemas begitu pula dalam penantiannya. Seperti halnya orang tua para pelajar juga merasakan keresahan seacra tidak langsung trelibat namum timbul rasa terancam keselamatannya, menurunkan semangat jiwa sosialisasi, bahkan kehilangan semangat untuk bersekolah dan belajaryang dimana mengakibatkan kualitas diri semakin turun.

Peningkatan kualitas manusia Indonesia berkaitan erat dengan masalah budaya bangsa, dimana Pendidikan merupakan bagian integral yang memiliki peran sangat strategis dalam usaha tersebut. Manusia Indonesia harus mampu menegembangkan kualitasnya sesuai dengan gerak perkembangan masyarakat yang bersifat dinamis dan menantang manusia supaya tetap survive memiliki daya tahan dalam mempertahanakna eksistensinya sebagai khalifah di muka bumi ini yang memiliki jiwa pancasialis.

Psikoanalisis menjadi metode baru dalam menjawab masalah Pendidikan, melalui pendekatan prilaku penulis memiliki paradigma besar bahwa tahapan awal dalam mengenal karakter siswa akan mempermudah memberikan sebuah informasi ilmu dan pengetahuan dalam menumbuhkan karakter siswa yang baik. psikologi yang berasal dari penemuan Sigmund Freud yang menjadi dasar dalam sebuah teori psikologi dan berhubungan dengan gangguan kepribadian manusia dan perilaku neorotik yang ditimbulkan.

Sejalan dengan pemikirannya Gunarsa (2009, hlm. 169) menegaskan bahwa “psikoanalisis dalam memandang kejiwaan manusia yakni sebagai ekspresi dari adaya suatu dorongan yang menimbulkan konflik. Dorongan ini sebagian disadari dan sebagiannya lagi tidak disadari, bahkan sebagian besar dorongan dalam diri manusia itu tidak disadari. Konflik yang timbul karena adanya dorongan yang saling bertentangan merupakan wujud kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk sosial disamping sebagai makhluk biologis. Berfungsinya aspek psikis manusia itu dikarenakan adanya kaitan manusia dengan nilai-nilai yang ada di lingkungan. Dalam pandangan psikoanalisis lingkungan keluargalah sebagai sumber utama dan aspek yang berkaitan dengan proses pertumbuhanya menjadi manusia yang berkualitas.

Kulaitas peserta didik dalam menyongsong dunia 4.0 dihadapakan dengan kadar kualitasnya, dimana era abad reformasi modern ini diperlukan mansuia yang canggih lebih dari kondisi sekarang. Pendidikan harus tanggap terhadap tuntutan ini apabila Pendidikan mau memelihara eksistensinya sebagai ilmu yang mampu memecahkan berbagai fenomena Pendidikan. Untuk dapat berperan secara optimal Pendidikan harus mampu menata dirinya, menunjukan keterbukaan untuk emnerima masukan dari berbagai displin ilmu pengetahuan dan teknologi, harus menempatkan fenomena Pendidikan sebagai masalah social yang merupakan tanggung jawab bersama.

Freud (dalam Bertens, 2016, hlm. 3) membagi teori psikoanalisis menjadi tiga makna, pertama, kata “psikonalisis” digunakan untuk menunjukan metode penelitian terhadap proses-proses psikis (seperti halnya mimpi) yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah. kedua, Psikoanalisis menunjukkan suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis yang dialami oleh pasien neurosis. Ketiga, Istilah yang dipakai dalam arti lebih luas, yaitu untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metode dan teknik diatas.21

Hal ini diperkuat oleh Robert C (1998) berkomentar bahwa “Proses psikoanalitik sering diperlakukan seolah-olah memiliki tiga tahap perawatan: awal, tengah, dan akhir (terminasi). Dengan tiga tahapan ini menajdi metode awal dalam proses menganalisis kesadaran dan mempermudah mencapai potensi optimal dalam proses memetakan siswa pada saat pelajaran PPKn dalam usaha pemetaan siswa. Menemukan hubungan visual data menajdi fakta, hubungan kerja antara analis dan peserta didik, adalah bagian dari fase awal. Perkembangan neurosis transferensi membawa neurosis ke dalam situasi analitik peserta didik dan meyakini jawaban dengan analisis adalah bagian dari fase tengah, dan pengakuan resistensi tokoh utama dan pemindahan alam bawah sadar menjadi fakta adalah bagian dari fase akhir.

Pentingnya penerapan pendekatan interdisipliner dalam mata pelajaran PPKn, hal ini di tegaskan kembali oleh Somantri (dalam Nurmalina, 2008, hlm. 88) yang membahas tentang pentingnya ilmu-ilmu sosial dalam mengatasi masalah kehidupan seperti yang diungkapkannya;

pentingnya masalah-masalah sosial untuk diperhatikan dan diangkat ke permukaan dalam pengajaran ilmu-ilmu sosial, dengan maksud agar siswa tidak jauh dari masalah-masalah kehidupan sosial yang sebenarnya.

 

Mengingat konteks historis dan sosial saat ini, guru tidak dapat lagi membatasi tindakan mereka terhadap perkembangan pengetahuan dan nilai, mereka perlu mengadopsi pendekatan yang fleksibel dan responsif sehingga mereka dapat berkontribusi terhadap pengembangan siswa sebagai warga negara yang kritis dan aktif, dengan hak dan tanggung jawab penuh sebagai warga negara Indonesia. Dalam penelitian ini mencoba membuka paradigma baru bahwa pendekatan agama merupakan faktor pendorong terintegrasinya mutu kurikulum dan pembelajaran PPKn berdasarkan kegiatan kewarganegaraan berbasis Psikoanalisis, Pendidikan nilai melalui data psikoanalisis menjadi basis proses penanaman nilai dan norma dasar dari ideologi bangsa yang dilakukan dengan sadar, terorganisir, dari satu generasi kepada generasi berikutnya dalam rangka membangun karakter bangsa (national character building). Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan nilai-nilai agama, social, hukum, politik, budaya, pertahanan dan keamanan menjadi crossdiscipline ilmu sosial sebagai metode Inheren dalam pemecahan suatu masalah kehidupuan bangsa.

Robert C (1998) dalam tulisannya yang berjudul ‘Directions In Psychoanalysis’ menegaskan bahwa  dengan pendekatan psikoanalisis mampu menyadari pengaruh perkembangan, relasional, interpersonal, dan struktural pada perilaku, dengan pendekatan analis untuk membawa ketidaksadaran ke dalam kesadaran. Aliran moral reasoning dalam Pendidikan moral, menempatkan akala lam bawah sadar sebagai potensi untuk menentukan pilihan baik dan buruk, sehingga yang dikatakan manusia yang bermoral adalah seseorang yang ammpu mealkukan pertimbangan secara rasional dan menunjukan tingkat kematangan moral yang tinggi dalam menentukan baik dan buruk dan mampu memecahkan dilema moral yang dihadapinya. Oleh karena itu model ini menggunakan dilema moral sebagai media Pendidikan moralnya. Manusia dengan akalnya berusaha menemukan/ mencari tuhan sedangkan dengan sifatknya yang rakhman dan rakhim yang mengetahui dan keterbatasan umatnya memberikan keterangan/ wahyu meallui para nabi dan rosul Nya. Posisi wahyu dalam mencari tuhan serta menentukan baik buruknya merupakan alat bagi manusia/ petunjuk dalam menggunakan akalnya.

Konsepsi ini menunjukan bahwa nilai-nilai ketuhanan, dalam bentuk religi dan kehidpuan beragama mengembangkan suatu sistem nilai yang memiliki ketuhanan untuk dijadikan sumber dalam pendidikan moral. Nilai merupakan kriteria bertindak, keindahan, dan manfaat serta harga keyakinan yang diakui oleh seseorang yang dijunjung tinggi dan dipeliharanya dalam bentuk tingkahlaku.

Seperti yang diutarakan oleh Rohman (2013, hlm. 214) bahwa “kedalaman nilai filosofis Pancasila yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai ajaran Islam hendaknya memperkuat posisi kita sebagai negara Indonesia yang beragama”. Beragama yang berkeadaban dengan menghormati semua pemeluk agama yang ada, sebagaimana yang dicita-citakan oleh Bung Karno. Oleh sebab itu, kita sebagai warga negara Indonesia dan masyarakat yang beragama senantiasa melaksanakan, menjaga, dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan beragama. Sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam), Islam sangat relevan dan fleksibel dalam segala bidang kehidupan. Islam mengatur segala para pemeluknya dalam segala hal, baik itu kehidupan individu maupun sosial kemasyarakatan. Kedalaman nilai filosofis Pancasila yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai ajaran Islam hendaknya memperkuat posisi kita sebagai negara Indonesia yang beragama.

Dinamika dunia dewasa ini disadarkan kepada pentingnya mengangkat nilai dalam segala aspek kehidupan dan disadarkan pula akan bahayanya kehidupan dengan meninggalkan nilai (value free). Kesadaran ini timbul sebagai sebuah titik balik dalam peradaban manusia. Di manamana orang berbicara tentang nilai dan dalam banyak kesempatan tema-tema tentang nilai atau yang terkait dengan nilai selalu dibahas.

Salah satu cara dalam upaya mengaktualisasikan nilai ini penulis sepakat untuk mengangkat dan mendongkrak nilai dalam berbagai aspek kehidupan terutama dalam pendidikan, baik di keluarga, sekolah maupun pendidikan masyarakat, sehingga pendidikan nilai telah menjadi bagian integral dalam pendidikan pada umumnya.Banyak nilai kemanusiaan yang diterima dan dipelajari oleh nenek moyang kita yang hidup di masyarakat masa silam. Dewasa ini nilai-nilai lain diciptakan sebagai situasi yang baru muncul. Cara-cara pemenuhan yang berbeda, pemasukan ide-ide, efek-efek teknologi semua itu mempengaruhi nilai-nilai. Kita ditantang untuk mempertahankan yang terbaik dari yang kita warisi dan membantu menciptakan nilai-nilai baru dalam membantu generasi yang lebih muda khususnya peserta didik.

Sependapat dengan Goldstein.J. (1978) berpendapat bahwa “ketika anak-anak harus diperlakukan sebagai orang dewasa dalam diri mereka sendiri, mereka melihat apa yang dilakukan oleh orang tua, orang lain. Tetapi anak-anak akan seperti itu, karena mereka masih anak-anak - bukan orang dewasa”. Pertanyaannya adalah kapan anak-anak harus diberikan otoritas seperti itu?. Peserta didik seperti itu akan menganggap bebas menentukan sendiri kebutuhan penempatan dan mengatur untuk memenuhinya. Dengan kata lain pertanyaannya menjadi, bagaimana peran Pendidikan  dalam menemapatkan diri peserta didik sesuai minat bakat mealalaui pendekatan nilai.

Sementara kita dapat menyetujui dan tidak menyetujui segi tertentu tentang nilai, adanya persepsi sama bahwa nilai memainkan bagian penting dalam kehidupan kita. Pendidikan nilai merupakan aktifitas pendidikan yang penting bagi setiap orang, baik di keluarga, sekolah maupun masyarakat (luar sekolah). Sesungguhnya hal tersebut justru semakin mendewasakan pendidikan, yakni memperkaya berbagai model pendidikan, sehingga melahirkan kekayaan pengalaman di lapangan mengenai praktek pendidikan, maupun pendidikan sebagi bagian dari aksi kulturak maupun transformasi sosial. Pendidikan menjadi arena yang menggairahkan, karena memang mampu terlibat dalam proses perubahan sosial politik di berbagai gerakan sosial yang menghendaki transformasi sosial dan demokratisasi.

Deskripsi pendidikan nilai mencakup keseluruhan dimensi pendidikan. Tujuan pendidikan nilai yang ideal adalah membentuk kepribadian manusia seutuhnya. Tujuan inidiarahkan untuk mencapai manusia seutuhnya yang berimplikasi pada pendidikan nilai sebagai keseluruhan praktek pendidikan di sekolah. Karena itu pendidikan nilai berarti keseluruhan dimensi pendidikan yang dilakukan melalui pengembangan baik kegiatan kurikulum, ektrakurikuler, dan seluruh kegiatan belajar mengajar yang dikatakan sebagai upaya penanaman nilai dalam Pendidikan untuk menumbuhkan karakter pancasilais pada peserta didik.

Chena. K (2010) menegaskan bahwa dengan pendekatan yang kreativitas meallui psikoanalisis mampu menumbuhkan dedikasi perubahan yang baik dan bermanfaat seprti yang diutarakannya;

bagaimana kreativitas itu bisa terjadi diperkenalkan dengan cara pengajaran non-tradisional. Metode ini membutuhkan dedikasi dan usaha yang besar dari guru, karena setiap siswa harus diperlakukan sebagai entitas individu sepanjang waktu, tetapi tetap merupakan hasil dari pengalaman sebelumnya telah terbukti bermanfaat. Kami percaya bahwa penyelidikan lebih lanjut dalam hubungan antara kreativitas, psikoanalisis dan teknik pengajaran akan bermanfaat bagi pendidik dalam pendidikan seni, pendidikan desain dan bidang terkait.

 

Pendekatan psikoanalisis akan menuntut peserta didik dalam pola pengembangan akhlak mulia mereka, yang bisa mereka terapkan di Sekolah, rumah, dan lingkungan masyarakat. Pembentukan karakter membutuhkan tahapan dan koordinasi yang baik yakni adanya metode inheren antara pendekatan modern psikoanalisis dan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai usaha dalam membentuk insan manusia yang berakhlak mulia beriman dan bertaqwa, serta memiliki jiwa nasionalis yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.

Tertera pada Pendidikan Nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Psikoanalisis berfungsi sebagai metode pendidikan moral melalui pengajaran PPKn merupakan salah satu upaya yang ditempuh untuk mengetahui dan mengembangkan moral (budi pekerti) anak didik. Untuk keperluan itu pengajaran PPKn bagi peserta didik dirasakan sebagai suatu kebutuhan. Melalui program pengajaran yang berkelanjutan PPKn diharapkan dapat memberi motivasi dan tindakan sebagai faktor psikologis terhadap mental yang menjaga keseimbangan hidup peserta didik melalui pendekatan psikologi yang baik.

Psikoanalisis juga memiliki fungsi kedua yakni sebagai pengajaran berbasis media pendidikan yang menjadi upaya membentuk kualitas internal sebagai pendorong manusia berperilaku moral yang baik. Perilaku moral yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan aturan atau norma masyarakat tetapi juga harus dilakukan dengan diatur, diawasi, dan dikendalikan dari dalam diri yang diiringi perasaan dan tanggung jawab pribadi.

Membangun nilai dan moral melalui pendekatan model Pendidikan modern yang ditransformasikan pada pembelajaran PPKn, fungsi yang ketiga yakni memberikan kontribusi besar dalam upaya mebangun bangsa melalui peningkatan karakter dan akhlak mulia insan manusia. Peningkatan karakter merupakan serangkaian program sekolah yang diterapkan dalam keseharian siswa sebagai kultur budaya. Pendekatan psikoanalisis juga mampu dijadikan sebagai serangkaian kegiatan sekolah dalam rangka membina siswa yang memiliki trauma, perubahan sikap dan perundungan.

Sejalan dengan pemikiran dari kaligis F (2012) berpedanpat bahwa dengan psikoanalisis mampu mengurangi rasa trauma mendalam, sperti yang dikataknnya; Pelatihan psikoanalisis tampaknya memiliki efek positif dalam meningkatkan kesehatan mental remaja dengan meningkatkan kekuatan dan pengetahuan mereka tentang bagaimana untuk mengatasi situasi stres. Menerapkan modul-modul ini secara terus menerus dalam sekolah akan memberikan lebih banyak manfaat bagi remaja. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar untuk dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Psikoanalisis menjadi pendekatan modern dalam dunia Pendidikan, menjadi usaha proses perubahan tingkah laku dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh dalam jangka waktu yang pendek atau lama dan dengan syarat bahwa perubahan yang terjadi tidak disebabkan oleh adanya kematangan berpikir emnajdi lebih baik.

Konseptual psikoanalisis sebagai bentuk Konsep model kegiatan kewarganegaraan meruapakan sumbangsih terbesar dalam ilmu pendidikan. Hal ini dipertegas oleh pendapatnya Wahab (2011, hlm. 266) menegaskan bahwa “secara konseptual, pendidikan kewarganegaraan merupakan bidang studi yang bersifat multifaset dengan konteks lintas bidang keilmuan”. Semakin di tegaskan bahwa Pendidikan kewarganegaraan yang memiliki ciri pendekatan interdisipliner berlandaskan pada teori-teori disiplin ilmu-ilmu sosial, khususnya peneliti menitik beratkan pada pendekatan ilmu- budaya dan psikologi dalam pengembangan pendidikan kewarganegaraan.

Wujud komunikasi baik lisan maupun tulisan yang diekspresikan warga negara yang cerdas bukan sekedar informasi yang hampa makna (meaningless) mealinkan berisikan pesan-pesan informasi yang memiliki atau berbobot makna (meaningfull). Gerald Nirenberg (Nurmalina. 2008, hlm 25) dalam bukunya yang berjudul “Getting Through To People” mengatakan “kerjasama dalam percakapan akan tercapai apanila anda menunjukan bahwa anda menganggap ide dan perasaan orang lain sama pentingnnya seperti milik anda”. Dengan kemampuan komunikasi, siswa diharapkan mampu menyampaikan aspirasinya, dalam hal ini psikoanalisis mencoba membuka terobosan baru dalam mengatasi masalah tersebut dengan memberikan kebebasan penuh saat menggunkan tema dialog ketika proses komunikasi sedang berjalan.

Penulis memberikan contoh bentuk psikoanalisis melalui Tes Kepribadian tentang alam bawah sadar di SMP BPI 1 Bandung, dengan tema MENGHADAPI HIDUP SERTA PERJUANGAN.

  1. Tahap pertama guru mengajak peserta didik untuk mevisualisasikan diri; lalu berikan pernyataan seperti; “BAYANGKAN DIRIKAMU ADALAH SEORANG ANAK KECIL USIA 9 SAMAPAI 10 TAHUN,TERSESAT DI HUTAN YANG SEDANG BERUSAHA NYARI AJLAN KELUAR
  2. Tahap kedua peserta didik diberikan beberap pertanyaan, dan pertanyaan harus djawab dalam hati, selama 5 detik. sperti:
  1. DARI BALIK PEPOHONAN DI DEPAN KAMU, TIBA TIBA ADA HEWAN YANG MUNCUL. BERHADAP HADAPAN DENGAN KAMU, STLAH ITU DIA PERGI MENINGGALKAN KAMUSENDIRI. HEWAN APAKAH ITU?
  2. SAAAT KAMU MELANJUTKAN PERJALANAN KAMU LIHAT SEBUAH RUMAH, ADA PAGAR YANG MENGELILINGI PAGAR ITU, SETINGGIAPA PAGAR NYA? APAKAH LEBIH TINGGI DARI KAMU? ATAU LEBOH PENDIK
  3. KAMU MEMUTUSKAN MASUK KEDALAM RUMAH ITU, KAMU LIHAT ADA MEJA MAKAN DI DALAMNYA, BAGAIMANA KONDISI MEJA MAKAN ITU? APAKAH ADA MAKANNYA ATAUKAH KOSONG?

 

  1. Pendidik memberikan arti dari jawaban yang persta didik pilih;
  1. JAWABAN DARI PERTANYAAN PERTAMA ADALAH SIKAP KETIKA KAMU MENEMUI MASALAH. KALU HEWAN ITU UKURANNYA LEBIH BESAR DARI KAMU ARTINYA KAMU ADALAH ORANG YG SERIUS SAAT KETEMU MASALAH, KELEBIHANNYA KAMU ADALAH TIPE ORANG YANG BERUSAHA MENYELESAIKAN MASALAH SECEPAT CEPATNYA. KEKURANGANNYA KAMU KADANG BISA GALAU, OVERTHINKING BERLEBIHKALAU MASALAH GK LANGSUNG SELESAI, KALAU HEWAN TADI UKURNNYA LEBIH KECIL DARI KAMU, ARTINYA KAMU ADALAH ORANG YANG SANTAI EASY GOING SAAT KETEMU MASALAH, GK OVERTHINKING. KEKURANGANNYA, KAMU KADANG TERLALU MENGANGGAP REMEH SESUATU, SUKA MENUNDA NUNDA. KALAU HEWANNYA SAMA BESAR DENGAN KAMU ARTINYA KAMU DI TENGAH TENGAH
  2. KALAU PAGARNYA LEBIH TINGGI DARI KAMUARTINYA KAMU ADALAH ORANG YANG AMBISIUS, PUNYA CITA CITA BESAR DALAM HIDUP. KALAU PAGARNYA LEBIH PENDEK DARI BADAN KAMUARTINYA KAMUA DALAH ORANG YANG REALISTIS DAN LOGIS, SELALU LIAT KONDISI SEKARANGSAAT MAU BIKIN TARGET. KALAU TINGGI BADANNYA SETINGGI BADAN KAMU ARTINYA KAMU ADA DI TENGAH TENGAH
  3. KALAU KAMU MELIHAT DI ATAS MEJA MAKANAN ADA BANYAK MAKANAN ARTINYA KAMU ADALAH ORANG YANG BERANI AMBIL RESIKO. GK TAKUT COBA HAL BARU. KALU DIATAS MEJA MAKANNYA KOSONG, GKA DA MAKANAN  BERSIH ARTINYA  KAMU ADALAH ORNG YANG SANGAT WASPADAYANG MEMASTIKAN PERTAHANAN AMAN DULU. BARU PERGI MENYERANG

 

Sejalan dengan pemikiran Sanjaya (2011, hlm. 205) mengaskan bahwa “proses belajar mengajar hakikatnya adalah proses komunikasi, dimana guru sebagai pengatar pesan dan siswa sebagai penerima pesan”. Mengkritisi teorinya Sanjaya tersebut, Peneliti tertarik untuk menerapkan Nilai agama sebagai sumber belajar pada pendidikan kewarganegaraan. Proses komunikasi pada pembelajaran PKn sering muncul hambatan, artinya tidak selamanya pesan yang disampaikan oleh guru mudah diterima oleh siswa

Pancasila perlu diaktualisasikan kembali (reaktualisasi) dalam dunia pendidikan, kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan mengingat Pancasila sebagai ideologi nasional yang merupakan visi kebangsaan Indonesia (yang membina persatuan bangsa) yang dipandang sebagai sumber demokrasi yang baik di masa depan dan yang lahir dari sejarah kebangsaan Indonesia yang beranekaragam suku, budaya, ras dan golongan.

Parrillo (dalam Green. Z and Batool. S. (2017) menyatakan bahwa “kegiatan refleksi memungkinkan siswa untuk mendapatkan wawasan pribadi yang kuat berkenaan dengan bagamaimana mereka memiliki kemampuan dan kekuatan intelektual”.  Penerapan psikoanalisis sebagai bentuk Konsep model kegiatan kewarganegaraan dalam PKn berbasis psikologi, menunjukkan bahwa refleksi seorang guru ketika awal pembelajaran adalah langkah awal dalam siswa untuk mengembangkan pemahaman empatik dari masalah yang dihadapi serta untuk mendapatkan wawasan berharga dalam menangani masalah yang disajikan dalam situasi di dalam proses pembelajaran.

Nilai-nilai keagamaan menjadi fungsi mengatasi keterbatasan pengalaman belajar pada pembelajaran PKn, kontribusinya yakni tindakan reflektif awal pembelajaran melalui pengalaman pribadi yang bisa dijadikan panutan untuk siswa.

Hal senada di utrakan oleh Green. Z and Batool. S. (2017) dalam penelitiannya terkait pengalaman belajar dengan menggunakan pendekatan refeltif, diantaranya menggunakan teknik “Refleksi pribadi, Lingkaran refleksi, Hasil yang ekspresif, Penilaian diri, Menjurnal Lembar kerja”. Pendidikan karakter meruapkan usaha sadar dan terencana untuk memwujudkan suasana, seta proses perbedayaan potensi dan pembudayaan siswa khususnya guna membangun karakter pribadi/ atau kelompok yang berakhlak mulia sebagai warga negara yang baik. Psikoanalisis diharapkan memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa, berkemanusian yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaran/ perwakilan dan berkeadilan sosial bagi seluruh  rakyat Indonesia.

Secara kultural, masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat religius. Nilai-nilai agama merupakan nilai yang sangat efektif digunakan untuk melahirkan partisipasi masyarakat. Sosialisasi nilai-nilai substansial dan masyarakat yang beradab dapat ditanamkan melalui lembaga-lembaga keagamaan. Nilai-nilai teologis itu merupakan energi yang dapat menggerakkan semangat untuk beramal soleh. Semangat itu menjadi penting untuk pemberdayaan manusia khsusunya dalam menciptakan siswa yang berbudi pekerti yang baik.

Proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan tidak terbatas di dalam kelas saja, sehingga PPKn memiliki saham yang strategis dalam pembentukan manusia Indonesia yang berakhlak mulia. Hal ini peneltiti menemukan bahwa praktek pendidikan yang hanya mendoktrinisasi substansi yang dirasakan sebagai interpesni terhadap mata pelajaran yang sudah ada khususnya PPKn, sehingga posisi dan peran untuk mengoptimalkan wahana pendidikan menjadi tidak teraktualisasikan

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

       Buku

 

Bertens,(2016) Psikoanalisis Sigmund Freud, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Gunarsa dan Singgih D.(2009).Konseling dan Psikoterapi,Jakarta: Gunung Mulia

Muchtar, S.A. (2001). Pendidikan dan Masalah Sosial Budaya. Bandung: Gelar Pustaka Mandiri

Nurmalina, K. dan Syaifullah. (2008). Memahami Pendidikan kewarganegaraan. Bandung: Lab PKn UPI

Sanjaya, W. (2011). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Wahab, A.A dan Sapriya (2011). Teori & Landasan Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Alfabeta

 

Jurnal

Chena. K, Ling. T. (2010). Creativity-provoking design education based on Jungian Psychoanalysis Theory. Department of Art Creativity and Development,Yuan Tze University,Chung-Li City, Taoyuan 32003, Taiwan b Department of Architecture, Cornell University, Ithaca, New York 14850, USA: Procedia Social and Behavioral Sciences 2 (2010) 4555–4560.

Green. Z and Batool. S. (2017). Emotionalized learning experiences: Tapping into the affective domain. Faculty of Education, Preston University, Islamabad, Pakistan. Evaluation and Program Planning 62 (2017) 35–48

Goldstein.J. (1978). Psychoanalysis and a Jurisprudence of Child Placement - with Special Emphasis on the Role of Legal Counsel for Children. Pergamon Press. Printed in the U.S.A.: Inrernational Journal of LawandPsychiatry, Vol. 1, PP. 109-124.

kaligis F, Setiastuti W. (2012). Improving adolescent’s mental health in the aftermath of Mount Merapi eruption with life-skills training. Department Of Psychiatry, Division of child and adolescent psychiatry, Jakarta, Indonesia:  IACAPAP 2012 – 20th World congress / Neuropsychiatrie de l’enfance et de l’adolescence 60S (2012) S197–S253: Tu-P-2157

Robert C, Bady Q, and  Bradley G. (1998). DIRECTIONS IN PSYCHOANALYSIS. Nova Southeastern University: Clinical Psychology Review, Vol. 18, No. 7, pp. 857–883, 1998. PII S0272-7358(98)00020-8

Rohman, M.S (2013). Kandungan Nilai-Nilai SyarIat Islam dalam Pancasila. PMB-LIPI, RM Books: Millah Vol. XIII, No. 1, Agustus 2013